Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2023

Aku Diciptakan untuk Menenangkanmu, Sayang.

Namanya Bara. Sesuai namanya, ia sanggup membuat kasihku membara. Tiga kali sehari ia menikmati seluruh tubuhku. Dia puas, aku pun puas. Semua kulakukan demi rasa sayangku pada Bara.

Bara pernah berkata, ia tidak akan bisa hidup tanpaku. Sungguh aku senang bukan main. Begitu berpengaruhnya aku dalam hidup Bara. Begitupun ia padaku.

Namun, semua berubah ketika seorang wanita jalang bernama Lisa datang dalam kehidupannya. Aku tak tau pasti sejalang apa nenek sihir ini, anggap saja begitu. Yang jelas, kedatangan Lisa membuat Bara yang kukenal hilang entah kemana. 

Bara tak lagi menyentuhku. Bara tak lagi melumatku. Bara yang kucinta, kini berpaling pada Lisa.

Hari-hari yang biasa Bara lalui denganku, kini diisi dengan kehadiran Lisa. Hampir setiap hari Lisa datang ke kamar kos Bara yang mengenaskan ini. Baju berantakan, sampah tak dibuang, tapi toh aku tak pernah berkomentar sedikitpun. Aku mencintai Bara apa adanya dirinya.

Bara bahkan tak mempedulikan aku yang ada di kamarnya saat ia membawa Lisa pulang. Mereka bercumbu dan bercinta di depanku! Binatang! Pelacur! Semua sumpah serapah kuteriakkan di sela-sela desahan si perempuan jalang. Tapi, mereka tetap saja bergumul. Seolah mereka tak mendengar pekikanku.

Setiap hari kulalui dengan kesedihan yang begitu pilu. Bara sialan. Perempuan itu apa lagi. Mereka tega berbahagia di atas penderitaanku. Begitu teganya.

Lima bulan berlalu, aku menyerah. Hanya bisa terbaring di atas meja. Tiba-tiba, Bara datang. Kali ini tanpa si perempuan jalang. Ia menutup pintu kamarnya secara perlahan dan duduk bersandar. Bara memegangi kepalanya, ia menangis. Oh, Bara-ku sayang. Ada apa?

Tangisnya semakin kencang. Ia memukul-mukul kepalanya.

"Diam, DIAM. DIAAAMMMMMM!!!" teriaknya.

Oh.

OH!

Bara-ku..... Kembali?

Bara bangkit dan terseok-seok berjalan ke arahku. Aku berdebar. Benarkah Bara-ku kembali?

Ia mengambil gelas kosong dan menuang air dari teko plastik murah yang tak pernah dicucinya selama entah berapa lama. Tapi, bukan itu yang terpenting. Bara-ku kembali!

Tangan Bara bergerak ke arahku. Aku menggelinjang. Ia membuka plastik yang membungkusku. Mengambil satu bagian tubuhku, lalu terdiam beberapa saat. Ia mengambil lagi satu bagian tubuhku lainnya. Ooohhh, Bara. Begitu rindunya kau padaku. 

Bara menggenggamku erat. Tangannya bergetar. Tenang, sayang. Aku ada di sini. Lumat aku bulat-bulat, kasihku.

Dan dimasukkannya aku dalam mulutnya, didorongnya dengan air. Aku menari bebas menuruni kerongkongannya. 

Air mata Bara turun lagi. Tapi, aku sudah kembali mengalir dalam setiap aliran darahnya. Bara meletakkan kepalanya di atas meja. Aku mulai bereaksi, menenangkan Bara dan suara-suara dalam kepalanya yang selama ini menyesaki pikirannya. 

Benar kan sayang, bukan Lisa yang bisa membuatmu tenang. Tapi, aku. Memang itu tugasku. 

Mungkin malah Lisa yang membuatmu mendengar suara-suara itu lagi. Tak apa sayang, ada aku di sini. Aku tak akan pernah lagi menyangsikanmu. Aku percaya, kau memang tidak akan pernah bisa hidup tanpaku. 

Selamat datang kembali, Bara. Dari aku yang akan selalu menenangkanmu. 

Kamis, 31 Oktober 2019

Semua Akan Baik-baik Saja

Ada yang patah ketika kami bertemu kembali.
Seperti saat aku memeluk raganya untuk terakhir kali.
Sebuah rasa sakit yang sama.
Sebuah luka biru yang sama.
Tapi tak apa, hiburku.
Ini belum seberapa.

Aku berusaha untuk mengasingkan perasaan ini.
Mencoba membebaskan diri dari jeratan memori.
Sekali, tidak berhasil.
Dua kali, tidak juga berhasil.
Tak apa, pikirku.
Semua akan baik-baik saja.

Aku sedang menuai apa yang aku tanam.
Menyakiti untuk disakiti lebih dalam.
Aku tak bisa beranjak.
Malah semakin merasa terinjak.
Tapi tak apa, ucapku.
Ini belum seberapa.

Jika memang ini sebuah hukuman.
Biarkanku mengobatinya dengan sebuah pelukan.
Satu kali lagi.
Tanpa ada air mata yang menggenangi.
Ya, tak apa, isakku.
Semua akan baik-baik saja. 
x

Jumat, 16 Juni 2017

Secuil Cerita Tentang Lingga, Yang Dulu Pernah Menjadi Linggaku

"Aku rindu. Bisa kita bertemu?"
Kalimat itu menjadi titik awal dari akhir yang baru. Kami memang pernah berakhir karena ketakutanku akan perasaanku sendiri.

Mari kuceritakan sejenak tentang Lingga. Manusia setinggi 173cm pemilik mata teduh, yang membuatku betah untuk berlama-lama menatapnya.

Aku bertemu Lingga pertama kali di sebuah rumah sakit. Saat itu aku menemani ibuku dan Lingga hanya seorang diri entah sedang apa. Pertama kali aku melihat Lingga, aku tak tahu bahwa nantinya kami akan dipertemukan lagi.

Tapi satu yang aku tahu pasti, Lingga membuatku tertarik untuk mengamatinya. Aku dan ibuku duduk di sebuah bangku, sedangkan Lingga ada hanya beberapa langkah di depanku.

Dari belakang aku melihatnya. Lama. Lalu perhatianku teralih pada suster yang memanggil nama ibuku. Kami pun masuk dan tak pernah bertemu lagi dengan Lingga, itu yang aku pikirkan saat itu.

Di jalan pulang, aku bercerita pada ibuku tentang Lingga, sosok yang hanya dalam waktu beberapa detik bisa membuatku jatuh cinta. Kalian mungkin tak percaya cinta pada pandangan pertama itu ada. Akupun awalnya begitu, tapi hey, aku baru saja merasakannya.

"Ibu lihat cowok tinggi yang tadi ada di depan kita?" tanyaku pada ibu yang aku bonceng di atas motor bututku.
"Yang mana?" balas ibu.
"Yang menarik, yang tadi duduk beberapa bangku di depan kita," jawabku masih tetap memfokuskan diri pada jalanan.
"Oh yang sendirian itu? Kenapa emang?" tanya ibu.
"Aku suka dia," ungkapku.
Ibu diam saja. Ia mungkin berpikir saat itu aku sedang meracau.

Perbincangan itu terjadi secara tiba-tiba dan berlalu begitu saja. Selang beberapa bulan, tanpa sengaja aku bertemu lagi dengan Lingga. Ia ternyata karyawan di tempat kerja baruku. Demi Tuhan, aku kaget bukan main.

Ketika itu karyawan-karyawan baru sepertiku berbincang mengenai ini itu. Kuliah, pekerjaan lama, momen interview, semua saling berbagi pengalaman. Begitu pula denganku. Tapi mereka tak tahu, bahwa mataku tak pernah lepas dari Lingga. Lingga sekali lagi berada hanya beberapa jangkau dariku. Aku ingin menyapanya, ingin mengatakan bahwa kita pernah bertemu sebelumnya. Tapi, seperti biasa aku terlalu takut dan mengurungkan niatku.

Siapa sangka ternyata ketakutan itu membuatku berada pada titik ini. Titik terendah untuk orang yang sedang jatuh cinta. Aku sadar betul, bahwa seharusnya aku tak melulu merasa seperti ini. Tapi, logika dan hatiku memutuskan untuk berseteru. Terus begitu sepanjang hari.

Sekarang akan aku ceritakan hubunganku dengan Lingga. Hubunganku dan Lingga memang rumit. Kami pernah lebih dari sekedar teman, tapi tak bisa disebut kekasih. Aku pernah merasa begitu terbuai olehnya, tapi aku juga pernah merasa begitu jatuh.

Aku sadar aku menyukainya, dan aku juga sadar Lingga tak menyukaiku. Lingga tipe manusia yang lebih suka pada perempuan idaman semua pria. Sedangkan aku? Tak perlu aku jawab karena kalian pasti bisa menebaknya sendiri.

Suatu hari aku dibuat begitu linglung oleh perasaanku sendiri. Karena ketakutanku, aku memutuskan untuk menjauhi Lingga. Hubungan kami yang tampaknya baik-baik saja akhirnya merenggang karena keputusanku sendiri. Saat itu aku merasa aku tak ingin lagi terbayang-bayang oleh orang yang sudah pasti tak akan menjadi masa depanku.

Lingga bingung atas keputusanku yang tiba-tiba. Ia heran mengapa aku memutuskan untuk membuat hubungan kami jadi buruk. Tapi, ia menerimanya. Mungkin karena ia juga sadar aku tak bisa menjadi bagian dalam masa depannya.

Sejak saat itu tak ada lagi sosok Lingga dalam hidupku. Aku sibuk (atau menyibukkan diri) dengan duniaku, dan dia kembali ke dunianya.

Seminggu berlalu, aku jatuh sakit. Bukan dalam arti sebenarnya, tapi aku benar-benar sakit. Rasa sakit yang teramat sangat ketika tanpa sengaja kau melihat postingannya di media sosial. Rasa sakit yang muncul saat ponselmu berbunyi dan berharap itu darinya. Rasa sakit yang tak pernah ingin kau harapkan dan akhirnya membuatmu terkapar.

Lalu, aku memutuskan untuk mencari obat akan rasa sakitku. Lingga. Dia satu-satunya obat yang bisa menyembuhkanku. Aku mempertaruhkan segala harga diri yang tersisa untuk menghubunginya.

"Aku rindu. Bisa kita bertemu?"

Kau mungkin akan berpikir, perempuan macam apa yang mengajak laki-laki yang telah ia jauhi secara sepihak untuk bertemu kembali. Tapi, persetan. Saat itu aku merasa menjauhinya adalah hal yang baik untukku. Namun, malah kebalikannya. Rinduku mengalahkan segalanya.

Itu tadi pernyataan dan pertanyaan yang aku kirim untuknya. Negatif. Obatku tampaknya sudah kadaluarsa. Ia tak bergeming sedikitpun.

Keesokan harinya aku masih melalui hariku tanpa Lingga. Namun, tiba-tiba Lingga muncul dan membuatku sehat seperti sedia kala, meski masih ada beberapa bagian tubuh yang tak lagi sama, harga diri misalnya.

Kami setuju untuk bertemu. Kau tak mengerti betapa senangnya aku saat itu. Lingga pamit sejenak, ada hal yang harus dibereskan, katanya. Aku mengiyakan. Dan aku menunggu. Menunggu. Menunggu. Dan terus menunggu.

Menunggu untuk bisa bersama lagi dengan Lingga. Menunggu untuk melampiaskan segala rindu yang tertimbun. Menunggu untuk bisa berbincang entah tentang apa.

Tapi, ternyata Lingga hilang. Lingga yang dulu selalu bergerilya di pikiranku. Lingga yang pernah membuatku sebal dan bahagia dalam waktu bersamaan. Lingga yang selalu bisa membuatku tersenyum saat kami bersama. Lingga itu tak ada lagi.

Linggaku pergi. Membiarkanku mati membusuk akan ego dan ketakutanku sendiri. Ia pergi. Bersama dengan secuil harapan, Linggaku memutuskan untuk tak kembali.

Sabtu, 20 Mei 2017

To The Man I Loved

How have you been?
I know you never ask, but I'm doing okay here.
Well, barely.
Tonight is one of those nights when suddenly I remember you.
Remember how close we were.
Remember the way you said my name.
Remember those beautiful eyes of yours.
Pathetic, I know.
I'll get over you fully as soon as possible.
I promise.
But, not today.
Maybe not tomorrow either.
Hey, do you ever wonder how it would be if we date?
We'd be the weirdest couple ever.
Cause I'm weird.
And you're weird too for liking a girl like me.
Sometimes I really wanna go back in time.
When everything was okay for us.
But, okay is not enough.
I kept getting greedy over you.
I kept wanting you for myself.
Only for me.
And that what killed me at the end.

To the man I loved.
Thank you for the memories.
The good one, the bad one.
Everything.
Now, I need to go and live my current life.
I'm sure I'll be okay.
I wish I am.

Sabtu, 25 Maret 2017

Dia Bernama Laras

Perempuan berparas ayu yang sering kujumpai ketika aku tanpa sengaja lewat taman dekat komplek, dia bernama Laras.
Perempuan yang tak pernah lepas dari senyum ceria entah apapun yang ia rasakan saat itu, dia bernama Laras.
Perempuan yang selalu memakai sneakers butut tapi masih juga kece, dia bernama Laras.
Perempuan yang doyan nyamil lembaran keju, dia bernama Laras.
Perempuan berambut pendek yang secara cepat dapat menyita perhatianku, dia bernama Laras.
Perempuan yang aku kagumi dari jauh, dia bernama Laras.

Kalian pasti terusik karena aku berkali-kali menyebut namanya dalam setiap kalimat.
Aku maklum, kalian tak tahu betapa susahnya aku mengetahui nama perempuan yang telah berdiam lama di pikiranku itu.
Aku maklum, tak apa.

Suatu hari ibuku memberiku sebuah undangan yang tak aku ketahui dari siapa.
Kata ibu, itu dari tetangga satu komplek sekaligus anak teman ibu.
Kata ibu, anaknya seumuran denganku.
Kata ibu, anaknya tahu anggota karang taruna komplek, aku satu diantaranya.
Kata ibu, ia memang mengundang seluruh anak muda, baik yang ikut karang taruna atau tidak.

Undangan itu berupa bakti sosial sekaligus perayaan pernikahan.
Anak teman ibu keren juga, pikirku.
Ia tak menggelar resepsi pernikahan seperti layaknya orang umum.
Bakti sosial itu lah resepsi pernikahan yang, kata ibu, ia selalu inginkan.
Lalu, aku sekali lagi membaca nama yang tertera di undangan.

Dari sini kalian pasti sudah bisa menebak siapa yang memberiku undangan.
Ya, dia adalah Laras.
Nama yang baru aku dengar dari undangan pernikahannya.
Tapi orang yang telah aku kenal lama walaupun hanya bersifat satu arah.

Ketika tanggal pernikahan tiba aku datang ke sebuah panti asuhan tempat mereka menggelar bakti sosial.
Tak ada perayaan mewah, bahkan Laras tak memakai gaun pengantin.
Laras yang biasa aku lihat dari jauh, kali ini ia memakai perias wajah.
Jauh, jauh lebih memukau dari biasanya.
Aku tersenyum kecut, tampaknya aku masih saja mengagumi Laras yang telah menjadi istri orang.

Laras dan suaminya yang biasa aja, lebih keren aku, pikirku, menghampiriku dan anak-anak karang taruna lain.
Yang lainnya berjabat tangan dan mengucapkan selamat untuk mempelai.
Aku diam saja, menikmati sisa-sisa Laras untukku sendiri.
Kemudian tiba giliranku, aku menjabat tangannya, sepersekian detik lebih lama dari anak-anak lain.
Aku bisa melihat Laras dari dekat.
Aku menahan gejolak diri untuk menyentuh wajahnya, untuk berteriak bahwa akulah yang pantas mendampinginya.

Setelah acara selesai Laras tampak sendirian sambil mengamati tamu undangan yang hadir.
Lalu mata kita bertemu. Aku luluh lantak. Istri orang ini, masih juga menghipnotisku.
Kudekati dia dengan mengumpulkan segenap keberanian.
Aku tak mau menjadi pengecut seumur hidupku.

"Laras," kataku.
"Iya?" jawabnya sambil tersenyum.
"Kamu tahu aku?" pertanyaan yang bodoh, pikirku.
Laras ketawa kecil.
"Tahu lah, kalau aku nggak tahu kan kamu nggak mungkin aku undang," jawabnya.
Aku diam, bingung.
"Kok bisa? Kan kita nggak pernah ketemu," ujarku.
Laras menatapku lama, aku masih bingung.
"Kamu selalu naik vespa merah saat melewati komplek taman, kamu selalu minum es kelapa muda depan komplek, kamu selalu pakai jaket jeans nggak layak pakai itu, kamu juga selalu diam-diam ngelihatin aku. Itu kamu kan?" jawabnya, masih juga tersenyum.
Headshot saudara-saudara, aku tumbang.
Bagaimana bisa selama ini Laras yang aku perhatikan dari jauh diam-diam juga memperhatikanku?
Bermimpi tentang itu pun aku tak berani.
Aku diam, merasa bingung sekaligus kalah.
"Suamiku," lanjutnya. "Adalah orang asing yang mengajakku kenalan di taman komplek. Ternyata dia adalah teman dari kakak temanku. Kata dia, dia sudah lama suka sama aku. Awalnya dia cuma bisa ngelihatin aja sampai akhirnya dia berani ngajak kenalan."
Aku mengutuk dalam hati.
"Dia sama denganmu, hanya saja dia lebih berani," kata Laras sambil melemparkan senyum terakhirnya untukku, lalu ia pergi.
Laras meninggalkanku yang masih diam terpaku.
Aku mengulang lagi setiap detil kalimat yang diucapkannya tentangku.

Ya Tuhan. Ya Tuhanku yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Seharusnya Laras bisa menjadi Larasku jika saja aku satu langkah lebih cepat dari pria yang kini telah mempersuntingnya itu.
AAAAAAAAAAAAAAAHHHH!!!!!!!
DASAR SIALAN!!!!!!!!!
Ternyata aku tetap menjadi pengecut seumur hidupku........

Selasa, 21 Juni 2016

Rumit

Kita bersentuhan dalam rangsangan yang tak lagi bisa dibendung. Ciuman demi ciuman kau daratkan di bibir hingga leherku. Desahanku memenuhi kamar hotel bintang 5 ternama yang sering kita sewa. Kau membuka bajuku dengan kasar dan menindihku di atas tempat tidur. Kau mulai melucuti pakaianmu tanpa melepas bibir kita yang masih berpagutan. Dengan gairah yang telah memuncak, kita pun mulai bersenggama.
“Jadi bagaimana?” tanyaku sambil memandangmu yang beranjak dari kasur setelah memuaskan birahi satu sama lain.
“Apanya?” tanyamu sambil kembali mengancingkan kancing kemejamu satu persatu.
“Tentang kita,” jawabku lirih.
“Kita sudah pernah membahas tentang ini,” ujarmu. Ada percikan amarah yang terdengar melalui nada bicaramu. Namun, aku mengabaikannya.
“Tapi, sampai kapan?” aku masih gigih meminta jawaban pasti.
“Dengar, sayang. Aku bisa memberikanmu apapun. Handphone, mobil, apartemen, tubuhku, semua bisa aku berikan untukmu,” kau berusaha menenangkanku dengan mengecup lembut dahiku. Tapi, itu tak berhasil.
“Kamu tahu bukan itu yang aku inginkan,” jawabku ketus.
“Ya. Dan kamu tahu tak ada dari kita yang ingin hidup kita sama-sama hancur,” jelasmu. “Maaf, tapi aku harus lekas kembali ke rumah. Istriku sudah menunggu.”
Kau berjalan keluar meninggalkanku yang masih terbaring tanpa sehelai benangpun. Aroma tubuhmu masih bisa kurasakan, begitu juga dengan peluh dan cairanmu yang menempel di tubuhku.
Ah, aku tak pernah menyangka hidupku akan serumit ini. Entah bagaimana dua insan yang saling mencintai seperti kita tak pernah bisa bersama untuk selamanya.
Aku membenamkan wajahku dengan kedua tangan. Aku mulai menangis. Karena aku sadar, takdir tak akan pernah mempersatukan dua laki-laki seperti kita.

Rabu, 13 April 2016

Sebuah Perubahan

23 tahun yang lalu ia lahir ke bumi, tanpa tahu akan seperti apa dunia menjadikannya kelak.
Ia tumbuh menjadi gadis kecil yang selalu riang dan membuat orang disekitarnya ikut merasa bahagia. Ia tak pernah bersedih, kecuali ketika ayahnya mengganti acara kartun di televisi dengan pertandingan sepak bola.
Masa mudanya penuh warna. Berbagai konser band rock n roll hingga ska tak pernah absen untuk didatanginya. Ia memiliki teman-teman sebaya yang selalu memiliki acara untuk berkumpul bersama. Berbagi kisah, berbagi cerita.
Ia mungkin bukan siswi terpintar, namun ia pernah meraih nilai tertinggi di sekolahnya saat ujian nasional hingga membuat kedua orangtuanya bangga. Selalu ia ingat raut bahagia hingga tangis haru ayah ibunya saat tahu sang anak menjadi seorang juara.
Lalu, tiba-tiba takdir mempertemukannya dengan seorang pria.
Berawal dari pertemanan, mereka akhirnya memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Keromantisan selalu mengiringi keberadaan mereka. Keduanya lupa bahwa sejatinya hidup tak hanya milik mereka saja. Namun, mereka tak peduli.
Ia menjalani hidup layaknya makhluk tuhan paling bahagia bersama sang kekasih. Sayangnya, hal itu hanya bisa dirasakan pada awal-awal bulan. Kekasihnya secara perlahan berubah menjadi monster menyeramkan yang begitu ditakutinya.
Sang kekasih tak pernah ragu untuk melayangkan tangan ke tubuhnya ketika dirinya merasa kesal. Pukulan demi pukulan diterimanya tanpa tahu apa yang membuatnya berhak untuk menerima perlakuan itu. Ia tetap memilih untuk bertahan.
Ia menjadi kebas. Tak ada perasaan sedih atau senang yang bisa dirasakan.
Hanya ketakutan yang selalu menjalarinya setiap kali melihat sosok sang kekasih. Seperti itukah definisi seorang kekasih? Tidak. Dan ia pun akhirnya sadar hingga memberanikan diri untuk meninggalkannya meskipun dengan perasaan terancam.
Untungnya, teman-teman yang dulu ditinggalkannya karena larangan sang kekasih ternyata memang selalu ada di sana untuk menunggu. Menunggunya kembali menjadi diri sendiri dan keluar dari berbagai kekejaman yang berkamuflase atas nama cinta.
Kini, ia tak lagi menjadi wanita murung yang selalu hidup dalam ketakutan. Meskipun terkadang bayangan-bayangan kelam itu susah untuk disingkirkan, ia percaya Tuhan telah mempersiapkan akhir yang bahagia untuknya. 

Selasa, 28 Oktober 2014

Tak Bisa Aku Benar-Benar Mencintaimu

Sebab, ada lagu-lagu kami yang mengalir merdu di telinga.
Sebab, ada foto-foto yang mengkekalkan ribuan memori.
Sebab, ada telepon-telepon yang tanpa sengaja selalu ditunggu.
Sebab, ada pesan-pesan dalam ponsel yang masih enggan dihapus.

Adalah rindu yang tak bisa ditepis.
Adalah kenangan yang seringkali datang tanpa diundang.
Adalah hari-hari yang dulu kami lewati bersama.
Adalah tawa renyahnya yang masih sering terdengar dalam angan.

Jadi, ia yang entah sekarang ada dimana, masih bertahta disini.
Jadi, ia yang entah sekarang sedang apa, masih bertahan disini.
Jadi, ia yang entah sekarang milik siapa, masih bersemai disini.
Jadi, maafkan aku, kekasihku.


Tak bisa aku benar-benar mencintaimu.

Jumat, 26 September 2014

Bulimia

Aku mengkonsumsi. Lalu, memuntahkan. Begitulah definisi bulimia. Namun, kasusku disini, bukan makanan yang aku konsumsi. Tapi, memori. Ribuan memori tentang aku dan kau, yang dulu pernah disebut dengan “kita”.
Memori yang menyenangkan, yang membawaku kembali dalam alunan rindu yang merdu sekaligus memekakkan telinga. Sekali waktu aku membuka kembali memori kita. Perlahan, lalu terbiasa. Begitu candunya aku akan memori itu.
Namun, aku segera memuntahkannya. Itu sangat tidak baik bagi tubuhku. Terlebih, hatiku.
Pernah suatu waktu, aku begitu kelaparan dan menghabiskan banyak porsi tentang memori kita. Tak pernah ada kata kenyang. Aku menjadi lebih rakus dari hari ke hari. Namun, disaat yang sama, aku segera memuntahkannya kembali. Aku tak bisa menambah kalori-kalori rindu ini untuk tubuhku. Sudah terlalu banyak lemak yang menguasai.
Aku sadar sekali ini tak baik untukku. Aku benar-benar sadar. Namun, candu ini begitu menggoda. Tak pernah cukup aku akan kau. Akan kita. Walau sekarang kau entah sedang beradu kasih dengan siapa. Walau aku tak pernah tahu pasti bibir siapa yang akan kau kecup. Tubuh baru yang kau peluk. Sebuah jiwa baru untuk kau ambil.
“Percayalah, aku akan selalu berada disini. Di dekatmu. Walau nyatanya memang kita terpaut jarak ribuan kilometer yang begitu menyiksa. Namun, aku selalu disini. Bersamamu. Kau harus percaya itu.”
Lebih dari ribuan kali kalimat itu aku telan mentah-mentah. Mengendap di seluruh tubuhku. Membuat jantungku berdegup tak karuan ketika aku memutar ulang memori itu. Lalu, tak lama, air mata seakan tak sanggup lagi berada di pelupuk. Ia jatuh. Tepat ketika aku bersuara...
“Iya. Aku percaya. Aku selalu percaya.”
Penyakit ini sudah begitu akut. Aku ingin sembuh. Aku tak ingin candu ini menggerogoti tiap aliran darahku. Tidak mudah memang, tapi aku harus mencoba.

Tak akan lagi aku mengkonsumsi memori ini. Sehingga tak akan ada lagi yang harus dimuntahkan selanjutnya. Seperti kata-kataku saat iku, “Aku percaya. Aku selalu percaya.” Ya. Aku percaya aku bisa.

Sabtu, 02 November 2013

Kau di Depan Sana, Selamat Untuk Kekasih Baru mu.

Hai. Ku dengar kau sudah menjadi miliknya ya? Miliknya seutuhnya? Jahat sekali. Aku bahkan belum sempat mengutarakannya padamu. Mengutarakan bagaimana aku terbius dengan aroma tubuhmu. Dengan pancaran semu kebahagiaanku saat bersamamu. Bagaimana bisa kau meninggalkanku begitu saja. Ah, jelas kau bisa. Memang aku siapa? Kau bahkan mungkin tidak mengenaliku.
Aku yang sudah terbiasa mengagumimu dari kejauhan ini merasa kehilangan. Bagaimana tidak, kau yang biasanya menjadi tumpuan mimpi-mimpiku untuk memilikimu, sekarang telah dimiliki orang lain. Beruntung sekali orang itu. Iya, orang itu. Kekasih barumu. Dia bisa mendapatkanmu tanpa harus bersusah payah menyembunyikan diri saat memandangimu. Tidak sepertiku, yang harus sembunyi-sembunyi agar kau tak sadar bahwa aku menatapmu sedari tadi.

Jujur saja, aku tidak ingin mendoakan jelek untuk hubunganmu. Karena bagaimanapun, kau bahagia bersamanya. Dan itu cukup untukku. Aku hanya berharap, kau masih sudi membagi secuil tubuhmu untukku. Untuk kupandangi sendiri. Untuk kukagumi, betapa aku benar-benar menyukaimu. Ini sudah gila, ini bukan suka lagi. Ini lebih dari itu. Entah apa namanya… 

Sabtu, 21 September 2013

Teruntuk Kau di Depan Sana

Teruntuk kau di depan sana…
Memandangimu telah menjadi bagian dari hari-hariku.
Tatapan matamu yang begitu hangat. Lekuk bibirmu saat kau tersenyum. Deru nafasmu yang menenangkan.
Aku tak pernah bosan memandangmu.
Cukup hanya dengan memandangimu.

Aku tak sampai hati untuk menyentuhmu.
Aku takut tangan kasarku akan melukai kulit lembutmu.
Kau begitu mengagumkan.
Setiap centimeter dari dirimu begitu mengagumkan.
Kau adalah percikan kecil air surga yang nyata adanya.

Jangan kau beranjak dari depan sana.
Jangan pernah kau beranjak dari depan sana.
Biarkan aku menikmati setiap detil gerakan anggunmu.
Memahami binar matamu.
Mensyukuri nikmat Tuhan akan adanya dirimu.

Teruntuk kau di depan sana…
Suatu hari nanti. Suatu hari nanti akan kukatakan semuanya padamu.
Bahwa aku… Mencintaimu…
Aku lebih dari mencintaimu…
Aku menggilaimu…


*Terinspirasi oleh Radiohead – Creep. Dan juga, untuk kau di depan sana.*

Jumat, 21 September 2012

Kita


                Dia berjalan menjauhiku. Dengan tenangnya, membawa segala kenangan-kenangan manis kami bersama. Ia tampak tegar dibalik semua pahit yang menghampirinya. Ia tak tampak ringkih. Ia masih saja seorang laki-laki kuat yang aku kenal. Yang aku percaya, bahwa hanya dia yang dapat membuatku merasa sebahagia ini.
                Tidak ada yang menyukai perpisahan ini. Kau tidak menyukainya. Apalagi aku. Air mata yang aku tahan sedari tadi akhirnya runtuh juga. Tidak, tidak di hadapanmu aku menangis. Aku juga mau terlihat kuat sepertimu. Walaupun itu semua hanya semu.
                Aku akan tetap menunggumu disini. Merapikan kenangan-kenangan kita yang masih tersisa. Dan menyusunnya rapi menjadi tumpukan rindu. Disinilah. Di tempat pertama kita bertemu, kita akan bertemu lagi. Memulai segala dari awal lagi. Kita akan membuat takdir kita sendiri. Yang akan kita jalani nantinya. Bernama, masa depan. Masa depan kita.

Kamis, 26 April 2012

Rindu

Rindu menggeliat.
Ingin melepaskan diri dari jeratan logika.
Jangan, kataku.
Rindu masih saja menggeliat.
Mengetuk-ngetuk hati yang terbaring lemah.
Jangan, kataku lagi.
Rindu menggeliat lebih keras.
Ia menghanguskan memori-memori sendu.
Rindu berhasil membujuk kenangan untuk bekerja sama.
Aku tak berdaya.
Logika telah dikuasainya.
Aku kalah.

Aku mulai menekan-nekan tombol di ponselku yang sudah ku hafal di luar kepala.
Satu nada sambung.
Dua nada sambung.
“Halo,”
Nah, rindu. Kau pemenangnya.
“Emm, hai. Apa kabar?”

Selasa, 14 Februari 2012

Selamat hari kasih sayang, wanitaku...

Sayang, selamat sore. Aku baru saja pulang bekerja. Rasanya lelah sekali badan ini. Tapi begitu bersamamu, lelah ini menghilang entah kemana. Hehe. Aku rindu, sayang. Aku rindu sekali. Ingin aku memelukmu dengan erat, mengecup keningmu, atau hanya sekedar duduk berdua menikmati kopi panas dengan cream kesukaanmu. Ah sayangku, aku benar-benar rindu.
Sayang, orang selalu bilang, bahwa kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Aku hanya tersenyum saja mendengarnya. Mereka tidak tahu apa-apa tentang kita. Mereka tidak tahu mimpi-mimpi kita. Jadi, biarkan saja. Jangan hiraukan mereka ya, sayang. Kita tidak selemah yang mereka pikir. Kau, wanita yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anakku, aku akan selalu ada untukmu. Jadi, kau jangan pernah bersedih ya.
Oh iya sayang, kau ingat, waktu pertama kita berkenalan? Waktu itu kau menunggu bus untuk pulang sekolah. Aku menawarkan tumpangan untukmu, tapi kau menolak. Memang saat itu, kita tidak terlalu dekat. Kita beda kelas. Tapi, aku selalu mengagumimu. Keberanianku untuk menawarkan tumpangan untukmu luluh lantak dengan satu kalimatmu, “tidak, terima kasih.” Dan kau tersenyum. Oh, bidadari memang nyata adanya!
Keesokan harinya, aku menawarkan tumpangan lagi untukmu. Dan kau menolak lagi. Kau memang keras kepala ya, sayang. Di hari ketiga, aku berjalan ke halte. Menemanimu menunggu hingga naik bus. Di dalam bus, kita duduk sebangku. Dan akhirnya kita berkenalan. Aku sadar, aku terlihat bodoh saat itu. Aku tegang sekali hingga tak bisa mencari bahan obrolan. Ah aku belum memberitahumu ya. Sebenarnya saat itu aku membawa sepeda motorku. Hanya saja aku ingin bersamamu. Jadilah, setelah kau turun dari bus, aku mencari bus untuk kembali ke sekolah, untuk mengambil sepeda motorku. Hehe, bodoh sekali ya, sayang.
Terlalu asyik aku bercerita, tak sadar langit telah gelap. Ah, sayang. Aku harus pulang. Besok sepulang kerja, aku akan kesini lagi. Menemanimu lagi. Jadi, jangan sedih ya, sayangku. Aku pulang dulu, sayang.
Kuletakkan sebuket mawar merah dan sekotak cokelat kesukaannya. Aku berjalan pelan menjauhi pusaranya. Terisak, aku menangis lagi.
Selamat hari kasih sayang, wanitaku…