Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2023

Aku Diciptakan untuk Menenangkanmu, Sayang.

Namanya Bara. Sesuai namanya, ia sanggup membuat kasihku membara. Tiga kali sehari ia menikmati seluruh tubuhku. Dia puas, aku pun puas. Semua kulakukan demi rasa sayangku pada Bara.

Bara pernah berkata, ia tidak akan bisa hidup tanpaku. Sungguh aku senang bukan main. Begitu berpengaruhnya aku dalam hidup Bara. Begitupun ia padaku.

Namun, semua berubah ketika seorang wanita jalang bernama Lisa datang dalam kehidupannya. Aku tak tau pasti sejalang apa nenek sihir ini, anggap saja begitu. Yang jelas, kedatangan Lisa membuat Bara yang kukenal hilang entah kemana. 

Bara tak lagi menyentuhku. Bara tak lagi melumatku. Bara yang kucinta, kini berpaling pada Lisa.

Hari-hari yang biasa Bara lalui denganku, kini diisi dengan kehadiran Lisa. Hampir setiap hari Lisa datang ke kamar kos Bara yang mengenaskan ini. Baju berantakan, sampah tak dibuang, tapi toh aku tak pernah berkomentar sedikitpun. Aku mencintai Bara apa adanya dirinya.

Bara bahkan tak mempedulikan aku yang ada di kamarnya saat ia membawa Lisa pulang. Mereka bercumbu dan bercinta di depanku! Binatang! Pelacur! Semua sumpah serapah kuteriakkan di sela-sela desahan si perempuan jalang. Tapi, mereka tetap saja bergumul. Seolah mereka tak mendengar pekikanku.

Setiap hari kulalui dengan kesedihan yang begitu pilu. Bara sialan. Perempuan itu apa lagi. Mereka tega berbahagia di atas penderitaanku. Begitu teganya.

Lima bulan berlalu, aku menyerah. Hanya bisa terbaring di atas meja. Tiba-tiba, Bara datang. Kali ini tanpa si perempuan jalang. Ia menutup pintu kamarnya secara perlahan dan duduk bersandar. Bara memegangi kepalanya, ia menangis. Oh, Bara-ku sayang. Ada apa?

Tangisnya semakin kencang. Ia memukul-mukul kepalanya.

"Diam, DIAM. DIAAAMMMMMM!!!" teriaknya.

Oh.

OH!

Bara-ku..... Kembali?

Bara bangkit dan terseok-seok berjalan ke arahku. Aku berdebar. Benarkah Bara-ku kembali?

Ia mengambil gelas kosong dan menuang air dari teko plastik murah yang tak pernah dicucinya selama entah berapa lama. Tapi, bukan itu yang terpenting. Bara-ku kembali!

Tangan Bara bergerak ke arahku. Aku menggelinjang. Ia membuka plastik yang membungkusku. Mengambil satu bagian tubuhku, lalu terdiam beberapa saat. Ia mengambil lagi satu bagian tubuhku lainnya. Ooohhh, Bara. Begitu rindunya kau padaku. 

Bara menggenggamku erat. Tangannya bergetar. Tenang, sayang. Aku ada di sini. Lumat aku bulat-bulat, kasihku.

Dan dimasukkannya aku dalam mulutnya, didorongnya dengan air. Aku menari bebas menuruni kerongkongannya. 

Air mata Bara turun lagi. Tapi, aku sudah kembali mengalir dalam setiap aliran darahnya. Bara meletakkan kepalanya di atas meja. Aku mulai bereaksi, menenangkan Bara dan suara-suara dalam kepalanya yang selama ini menyesaki pikirannya. 

Benar kan sayang, bukan Lisa yang bisa membuatmu tenang. Tapi, aku. Memang itu tugasku. 

Mungkin malah Lisa yang membuatmu mendengar suara-suara itu lagi. Tak apa sayang, ada aku di sini. Aku tak akan pernah lagi menyangsikanmu. Aku percaya, kau memang tidak akan pernah bisa hidup tanpaku. 

Selamat datang kembali, Bara. Dari aku yang akan selalu menenangkanmu. 

Selasa, 03 September 2019

Pamit

"Tuanku, aku lelah.
Menjadi budakmu bukanlah pekerjaan yang mudah. 
Tak akan ada yang mengira kau selicin lintah.

Tuanku, aku sedih.
Sadarkah kau setiap hari kulalui dengan tertatih.
Semua hinaan kau tujukan padaku tanpa belas kasih.

Tuanku, aku sudah muak.
Melayani ketamakanmu membuatku ingin teriak.
Sadarlah, kau tak lebih suci dari para peminum arak.

Tuanku, aku akan pamit.
Tak sanggup lagi ku menjalani hari-hari pahit. 
Tak akan lagi ku bekerja untuk si bandit.

Dan Tuanku, sekarang aku pergi.
Semoga kau berhenti menjadi manusia keji."

Sang Tuan terpaku membaca surat itu di singgasana emasnya. Dalam kenaifannya, ia tak pernah merasa dirinya seburuk itu di mata para pekerjanya. Sang Tuan percaya dirinya dikenal sebagai pribadi yang ramah dan rendah hati oleh orang sekitar. Namun, ternyata tak demikian halnya di mata orang yang selalu membantu memenuhi ambisinya.

Sang Tuan telah gagal. Ia gagal memenuhi ambisinya sebagai manusia yang dipandang sempurna oleh semua orang. Ia benci kegagalan. Ia juga benci pada orang yang menyadarkannya akan kegagalan ini.

Sang Tuan gemetar. Ia bangkit dari duduknya diterpa gelombang amarah. Sang Tuan mengambil pistol yang telah lama tersimpan di brangkasnya. Ia tak pernah membayangkan hari ini akan tiba, hari dimana ia akan menghabisi sebuah nyawa.

Marah. Ia dipenuhi dengan kemarahan. Ia menarik pelatuk pistolnya dan menatap dalam-dalam di cermin. Sang Tuan pun memutuskan nyawa mana yang akan ia habisi. 

Sabtu, 25 Maret 2017

Dia Bernama Laras

Perempuan berparas ayu yang sering kujumpai ketika aku tanpa sengaja lewat taman dekat komplek, dia bernama Laras.
Perempuan yang tak pernah lepas dari senyum ceria entah apapun yang ia rasakan saat itu, dia bernama Laras.
Perempuan yang selalu memakai sneakers butut tapi masih juga kece, dia bernama Laras.
Perempuan yang doyan nyamil lembaran keju, dia bernama Laras.
Perempuan berambut pendek yang secara cepat dapat menyita perhatianku, dia bernama Laras.
Perempuan yang aku kagumi dari jauh, dia bernama Laras.

Kalian pasti terusik karena aku berkali-kali menyebut namanya dalam setiap kalimat.
Aku maklum, kalian tak tahu betapa susahnya aku mengetahui nama perempuan yang telah berdiam lama di pikiranku itu.
Aku maklum, tak apa.

Suatu hari ibuku memberiku sebuah undangan yang tak aku ketahui dari siapa.
Kata ibu, itu dari tetangga satu komplek sekaligus anak teman ibu.
Kata ibu, anaknya seumuran denganku.
Kata ibu, anaknya tahu anggota karang taruna komplek, aku satu diantaranya.
Kata ibu, ia memang mengundang seluruh anak muda, baik yang ikut karang taruna atau tidak.

Undangan itu berupa bakti sosial sekaligus perayaan pernikahan.
Anak teman ibu keren juga, pikirku.
Ia tak menggelar resepsi pernikahan seperti layaknya orang umum.
Bakti sosial itu lah resepsi pernikahan yang, kata ibu, ia selalu inginkan.
Lalu, aku sekali lagi membaca nama yang tertera di undangan.

Dari sini kalian pasti sudah bisa menebak siapa yang memberiku undangan.
Ya, dia adalah Laras.
Nama yang baru aku dengar dari undangan pernikahannya.
Tapi orang yang telah aku kenal lama walaupun hanya bersifat satu arah.

Ketika tanggal pernikahan tiba aku datang ke sebuah panti asuhan tempat mereka menggelar bakti sosial.
Tak ada perayaan mewah, bahkan Laras tak memakai gaun pengantin.
Laras yang biasa aku lihat dari jauh, kali ini ia memakai perias wajah.
Jauh, jauh lebih memukau dari biasanya.
Aku tersenyum kecut, tampaknya aku masih saja mengagumi Laras yang telah menjadi istri orang.

Laras dan suaminya yang biasa aja, lebih keren aku, pikirku, menghampiriku dan anak-anak karang taruna lain.
Yang lainnya berjabat tangan dan mengucapkan selamat untuk mempelai.
Aku diam saja, menikmati sisa-sisa Laras untukku sendiri.
Kemudian tiba giliranku, aku menjabat tangannya, sepersekian detik lebih lama dari anak-anak lain.
Aku bisa melihat Laras dari dekat.
Aku menahan gejolak diri untuk menyentuh wajahnya, untuk berteriak bahwa akulah yang pantas mendampinginya.

Setelah acara selesai Laras tampak sendirian sambil mengamati tamu undangan yang hadir.
Lalu mata kita bertemu. Aku luluh lantak. Istri orang ini, masih juga menghipnotisku.
Kudekati dia dengan mengumpulkan segenap keberanian.
Aku tak mau menjadi pengecut seumur hidupku.

"Laras," kataku.
"Iya?" jawabnya sambil tersenyum.
"Kamu tahu aku?" pertanyaan yang bodoh, pikirku.
Laras ketawa kecil.
"Tahu lah, kalau aku nggak tahu kan kamu nggak mungkin aku undang," jawabnya.
Aku diam, bingung.
"Kok bisa? Kan kita nggak pernah ketemu," ujarku.
Laras menatapku lama, aku masih bingung.
"Kamu selalu naik vespa merah saat melewati komplek taman, kamu selalu minum es kelapa muda depan komplek, kamu selalu pakai jaket jeans nggak layak pakai itu, kamu juga selalu diam-diam ngelihatin aku. Itu kamu kan?" jawabnya, masih juga tersenyum.
Headshot saudara-saudara, aku tumbang.
Bagaimana bisa selama ini Laras yang aku perhatikan dari jauh diam-diam juga memperhatikanku?
Bermimpi tentang itu pun aku tak berani.
Aku diam, merasa bingung sekaligus kalah.
"Suamiku," lanjutnya. "Adalah orang asing yang mengajakku kenalan di taman komplek. Ternyata dia adalah teman dari kakak temanku. Kata dia, dia sudah lama suka sama aku. Awalnya dia cuma bisa ngelihatin aja sampai akhirnya dia berani ngajak kenalan."
Aku mengutuk dalam hati.
"Dia sama denganmu, hanya saja dia lebih berani," kata Laras sambil melemparkan senyum terakhirnya untukku, lalu ia pergi.
Laras meninggalkanku yang masih diam terpaku.
Aku mengulang lagi setiap detil kalimat yang diucapkannya tentangku.

Ya Tuhan. Ya Tuhanku yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Seharusnya Laras bisa menjadi Larasku jika saja aku satu langkah lebih cepat dari pria yang kini telah mempersuntingnya itu.
AAAAAAAAAAAAAAAHHHH!!!!!!!
DASAR SIALAN!!!!!!!!!
Ternyata aku tetap menjadi pengecut seumur hidupku........

Selasa, 21 Juni 2016

Rumit

Kita bersentuhan dalam rangsangan yang tak lagi bisa dibendung. Ciuman demi ciuman kau daratkan di bibir hingga leherku. Desahanku memenuhi kamar hotel bintang 5 ternama yang sering kita sewa. Kau membuka bajuku dengan kasar dan menindihku di atas tempat tidur. Kau mulai melucuti pakaianmu tanpa melepas bibir kita yang masih berpagutan. Dengan gairah yang telah memuncak, kita pun mulai bersenggama.
“Jadi bagaimana?” tanyaku sambil memandangmu yang beranjak dari kasur setelah memuaskan birahi satu sama lain.
“Apanya?” tanyamu sambil kembali mengancingkan kancing kemejamu satu persatu.
“Tentang kita,” jawabku lirih.
“Kita sudah pernah membahas tentang ini,” ujarmu. Ada percikan amarah yang terdengar melalui nada bicaramu. Namun, aku mengabaikannya.
“Tapi, sampai kapan?” aku masih gigih meminta jawaban pasti.
“Dengar, sayang. Aku bisa memberikanmu apapun. Handphone, mobil, apartemen, tubuhku, semua bisa aku berikan untukmu,” kau berusaha menenangkanku dengan mengecup lembut dahiku. Tapi, itu tak berhasil.
“Kamu tahu bukan itu yang aku inginkan,” jawabku ketus.
“Ya. Dan kamu tahu tak ada dari kita yang ingin hidup kita sama-sama hancur,” jelasmu. “Maaf, tapi aku harus lekas kembali ke rumah. Istriku sudah menunggu.”
Kau berjalan keluar meninggalkanku yang masih terbaring tanpa sehelai benangpun. Aroma tubuhmu masih bisa kurasakan, begitu juga dengan peluh dan cairanmu yang menempel di tubuhku.
Ah, aku tak pernah menyangka hidupku akan serumit ini. Entah bagaimana dua insan yang saling mencintai seperti kita tak pernah bisa bersama untuk selamanya.
Aku membenamkan wajahku dengan kedua tangan. Aku mulai menangis. Karena aku sadar, takdir tak akan pernah mempersatukan dua laki-laki seperti kita.

Sabtu, 05 Juli 2014

Teruntuk Sebuah Nyawa Di Dalam Rahimku

Selamat pagi, kamu di dalam perutku. Aku masih tidak menyangka kamu hadir dalam kehidupanku. Dalam hari-hariku. Kamu yang akan menemaniku selama 9 bulan nanti. Kamu yang akan selalu ada denganku. Aku tidak sabar untuk melihatmu dengan mata kepalaku sendiri. Bukan dengan bantuan mesin USG sang bidan.
Kamu sang juara. Bayangkan betapa banyak teman yang kamu kalahkan untuk menetap di rahimku. Kamu juaranya! Kamu yang terhebat! Kamu hebat, Nak!
Nak, anakku tersayang. Jika kelak kamu telah lahir ke dunia, jangan pernah tanya siapa bapakmu ya. Karena sejujurnya, ibu pun tidak tahu. Tidak ada yang tahu siapa bapakmu. Tapi, ibu bisa menjadi ibu sekaligus bapak untukmu. Ibu janji. Ibu akan melakukan apa saja untuk bisa membahagiakanmu.

Ibumu memang seorang jalang. Bapakmu tak lebih hina dari binatang. Tapi, anakku sayang. Ibu pasti akan selalu membuatmu senang.

Sabtu, 22 Desember 2012

Tuhan Maha Adil

Tuhanku yang Maha Adil, aku kelaparan. Dan mereka di luar sana makan dengan rakusnya hingga perut mereka sakit. Jangankan makan hingga sakit perut, sesuap nasi pun aku tidak punya.
Tuhanku yang Maha Adil, aku kedinginan. Dan mereka di luar sana dengan mudah membeli jaket necis tebal yang mahal. Jangankan jaket necis tebal yang mahal, yang aku punya hanya selembar selimut tipis yang aku pakai berdua dengan adikku.
Tuhanku yang Maha Adil, aku kesakitan. Dan mereka di luar sana terlihat segar bugar dengan vitamin yang dikonsumsinya setiap hari. Jangankan mengkonsumsi vitamin, untuk makan saja aku sudah kesusahan.

Kau memang adil Tuhanku. Kau memang adil.

Sabtu, 26 Mei 2012

Apa salahku?


Aku lapar. Aku lapar sekali. Sudah seharian aku tidak makan apa-apa. Kenapa wanita ini tidak memberiku makan. Kenapa dia tidak makan untukku? Aku hanya diberi asap. Asap rokok yang mengepul dan membuatku tidak nyaman. Tidak ada makanan, hanya asap. Aku hanya bisa berdiam diri. Berharap ia akan memakan sesuatu untuk membuatku kenyang. Tapi, yang dilakukannya seharian hanya berkutat dengan nikotin. Seakan-akan itu telah menjadi oksigennya.
Wanita ini berdiri dari duduknya. Ia muntah. Rasakan. Karena aku telah menendangnya sekuat tenaga. Salah sendiri ia membiarkanku. Salah sendiri ia tidak merawatku. Wajahnya yang ayu terlihat pucat setelah memuntahkan entah apapun itu. Tubuhnya terkulai lemas. Tanpa tenaga, ia kembali ke tempat duduknya semula.
Ia memegang kepalanya yang terasa pening. Tubuhku menjadi lemas juga. Ah, kenapa dia masih saja tidak memakan apa-apa. Ia kembali berkecimpung pada dunia asapnya. Tanpa memperdulikan aku yang kelaparan dan lemah ini.
Tok.. Tok..
Pintu kamarnya ada yang mengetuk. Ia segera beranjak dari duduknya dan membuka pintu. Terlihat seorang laki-laki tambun dengan kumis tebal sudah berdiri disana. Ia segera memeluk laki-laki itu dengan mesra. Laki-laki itu membalas pelukannya.
Aku merasa mual. Ia membuatku mual dengan melihatnya bermesraan dengan laki-laki itu. Aku menendangnya sekali lagi dengan sangat keras. Ia memegangi perutnya, dan langsung beranjak ke kamar mandi, muntah lagi. Muntah kali ini lebih dahsyat dari sebelumnya. Ia berkeringat dingin. Mukanya terlihat panik. Dengan gelisah, ia mengambil test pack dari kabinet di kamar mandi. Ia segera mengencinginya.
Laki-laki tambun itu juga terlihat gelisah. Pria itu memanggil-manggilnya dari luar kamar mandi. Mungkin ia terlalu takut untuk masuk. Terlalu takut untuk melihat kenyataan yang akan dihadapinya sebentar lagi.
Wanita ini keluar dari kamar mandi. Badannya terlihat lebih lunglai. Diberikannya test pack itu pada si lelaki tambun. Dua garis. Dua garis terlihat jelas pada test pack yang dipegangnya. Lelaki itu terdiam. Terlalu kaget. Terlalu mengagetkan. Ia melempar test pack itu padanya. Laki-laki tambun memakinya. Sumpah serapah diteriakkan. Wanita itu menangis. Ia menangis sesenggukan di hadapan laki-laki itu. Hal itu memompa amarah si lelaki tambun seketika. Ia menampar wanita itu dengan keras. Ia memaki lagi. Dan meninggalkan wanita itu begitu saja.
Wanita itu masih saja menangis. Ia terduduk lemah di lantai. Ia memukul-mukul perutnya. Tempatku berada. Aku kesakitan. Rasanya sakit sekali. Aku ikut menangis dengannya. Aku tidak minta untuk hidup dalam rahimnya. Ia yang membuatku berada disini. Ia yang memulainya. Tapi, ia tidak menginginkanku. Ia membenciku.
“Bangsaaaaaatttt!!” Ia memaki-maki.
Ia masih terus memukuli perutnya. Ia memukuliku. Aku tidak tahan. Sakit sekali rasanya. Aku merasa lemah. Mengapa ia menyalahkanku, apa salahku. Ia yang melakukannya. Bukan aku. Aku hanya menumpang untuk hidup di dunia ini melalu rahimnya. Mengapa ia begitu membenciku. Apa salahku?!
Pukulan-pukulannya membuatku kesakitan. Aku menyerah. Aku menyerah untuk bertahan melawan rasa sakit ini. Ibu… Maafkan aku…

Senin, 02 April 2012

Tolong aku!

Aku berjalan lurus kedepan. Hanya langkah kakiku yang terdengar menggema di sepanjang lorong ini. Ku tatap cahaya terang di ujung sana. Aku mulai berlari. Aku berlari dan terus berlari. Tapi, cahaya itu enggan menungguku. Ia perlahan memudar. Tidak. Jangan! Jangan pergi. Tolong, aku mohon. Aku berlari semakin kencang. Aku menggapai-gapai cahaya di depanku. Ia tak mau menungguku. Dan hilang. Tepat disaat aku mulai menapak kilaunya, ia menghilang. Aku terkapar lemas. Tubuhku lelah sekali. Aku terengah-engah.

“Selamat datang kembali,” Ujar kegelapan sambil menyeringai. Seringai seram yang selama ini menghantui hari-hariku.

Tubuhku terseret gelap. Aku kembali terperosok dalam kelam. Aku meraih-raih pegangan. Mencari sisa-sisa cahaya yang tertinggal. Tapi, tak ada sedikitpun yang tersisa untukku. Aku tidak mau bertemu pekat. Aku tidak mau!

“Heh pecun ngelamun aje! Tuh, ada tamu. Layanin yang bener. Kalo nggak, abis lu ama gue.” Teriakan germo babi membuyarkan lamunanku.

Ah sial. Ku letakkan sejenak imaji ku. Ku matikan rokok, dan melangkah kembali pada realita.

Selasa, 14 Februari 2012

Selamat hari kasih sayang, wanitaku...

Sayang, selamat sore. Aku baru saja pulang bekerja. Rasanya lelah sekali badan ini. Tapi begitu bersamamu, lelah ini menghilang entah kemana. Hehe. Aku rindu, sayang. Aku rindu sekali. Ingin aku memelukmu dengan erat, mengecup keningmu, atau hanya sekedar duduk berdua menikmati kopi panas dengan cream kesukaanmu. Ah sayangku, aku benar-benar rindu.
Sayang, orang selalu bilang, bahwa kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Aku hanya tersenyum saja mendengarnya. Mereka tidak tahu apa-apa tentang kita. Mereka tidak tahu mimpi-mimpi kita. Jadi, biarkan saja. Jangan hiraukan mereka ya, sayang. Kita tidak selemah yang mereka pikir. Kau, wanita yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anakku, aku akan selalu ada untukmu. Jadi, kau jangan pernah bersedih ya.
Oh iya sayang, kau ingat, waktu pertama kita berkenalan? Waktu itu kau menunggu bus untuk pulang sekolah. Aku menawarkan tumpangan untukmu, tapi kau menolak. Memang saat itu, kita tidak terlalu dekat. Kita beda kelas. Tapi, aku selalu mengagumimu. Keberanianku untuk menawarkan tumpangan untukmu luluh lantak dengan satu kalimatmu, “tidak, terima kasih.” Dan kau tersenyum. Oh, bidadari memang nyata adanya!
Keesokan harinya, aku menawarkan tumpangan lagi untukmu. Dan kau menolak lagi. Kau memang keras kepala ya, sayang. Di hari ketiga, aku berjalan ke halte. Menemanimu menunggu hingga naik bus. Di dalam bus, kita duduk sebangku. Dan akhirnya kita berkenalan. Aku sadar, aku terlihat bodoh saat itu. Aku tegang sekali hingga tak bisa mencari bahan obrolan. Ah aku belum memberitahumu ya. Sebenarnya saat itu aku membawa sepeda motorku. Hanya saja aku ingin bersamamu. Jadilah, setelah kau turun dari bus, aku mencari bus untuk kembali ke sekolah, untuk mengambil sepeda motorku. Hehe, bodoh sekali ya, sayang.
Terlalu asyik aku bercerita, tak sadar langit telah gelap. Ah, sayang. Aku harus pulang. Besok sepulang kerja, aku akan kesini lagi. Menemanimu lagi. Jadi, jangan sedih ya, sayangku. Aku pulang dulu, sayang.
Kuletakkan sebuket mawar merah dan sekotak cokelat kesukaannya. Aku berjalan pelan menjauhi pusaranya. Terisak, aku menangis lagi.
Selamat hari kasih sayang, wanitaku…

Rabu, 01 Februari 2012

Naskah Hidup

Ini bukan cerita yang kau inginkan. Ini bukan episode-episode yang kau impikan. Aku tahu. Aku tahu benar. Kita hanya pelakon drama kehidupan. Sudah ada sang sutradara yang mengatur ini semua. Bagaimanapun, naskah hidup kita telah selesai ditulis. Dan kita hanya tinggal memerankannya seperti anjing bodoh yang setia kepada majikan. Iya iya, tidak tidak. Hanya itu. Takdir dapat diubah? Tai. Itu hanya upaya manusia untuk memotivasi diri sendiri. Tapi, hey! Tak ada salahnya. Bahkan anjing bodoh pun tak ingin terlihat bodoh, bukan?
Naskah hidupku lebih keparat dibanding siapapun. Ya, kau bisa menyangkal itu. Aku tahu pasti kau merasa naskah hidupku lebih baik darimu. Karena memang begitulah manusia bereaksi. Benar-benar sampah. Bagaimana bisa aku mendapatkan naskah hidup yang seperti ini?! Akan ku lakukan apapun untuk casting sebagai pemeran drama hidup yang lain. Oh, percayalah! Aku memang tak baik dalam menjalani lakonku disini. Tapi, aku pasti lebih jika aku mendapat peran yang lain. Aku percaya itu.
Ah, setidaknya kau masih bisa makan enak didalam rumah yang nyaman. Bukan di sebuah prostitusi kelas sapi yang bau busuk ini. Setidaknya kau masih punya kedua orang tua. Bukan seorang germo menor yang tidak punya hati ini. Setidaknya kau masih bisa mengenyam pendidikan. Bukan mengenyam kelamin para laki-laki hidung belang ini. Anjing! Hey, kau anjing! Jangan pernah bilang hidupmu tidak lebih baik dariku! Tahu apa kau, bangsat!
Tai. Tai tetap saja tai. Aku hanya bisa berharap sang sutradara telah menyiapkan akhir bahagia untukku. Jika tidak, aku tak akan berhenti merutuknya. Dasar sutradara pembuat hidup sialan!

Minggu, 29 Januari 2012

Senja Tak Lagi Berwarna Jingga

Aku masih menunggumu. Kau bilang, kau akan pulang saat senja. Saat matahari menutup tugasnya. Saat langit bersemu malu. Jingga, katamu. Aku masih saja duduk di depan rumah. Dengan secangkir teh dan beberapa biskuit, aku menunggumu hingga langit tak lagi kemerahan. Bulan perlahan menaiki tahtanya. Dan aku tetap saja duduk menunggumu di depan rumah.

Aku masih ingat jelas saat kau pergi. Tak ada bahasa. Tak ada kata. Raut muka dan air mata mengisyaratkan semuanya. Aku terdiam. Tanpa peluk, kau pergi begitu saja. Aku hanya bisa menatap punggungmu hingga kau berlalu. Air mata ini belum kering benar, sayatan luka ini masih menganga lebar. Dan kau pergi. Kau pergi begitu saja!

Senja ini, aku masih menunggumu. Tetap saja tak ada tanda-tanda kehadiranmu. Hingga seorang kawan berlari tergesa-gesa menuju rumah. Aku terlonjak kaget. Ia mengabarkan sebuah mimpi buruk. Mimpi buruk yang tak lagi hanya seutas mimpi. Mimpi buruk ini nyata. Aku marah. Aku menyalahkan Tuhan! Tangis ini berderai. Sang kawan berusaha menenangkanku. Cahaya senja menjadi kelabu. Perlahan, lalu, hilang.

Senja kali ini berwarna jingga terang. Indah sekali. Dan kau pulang. Kau yang selama ini aku tunggu, akhirnya telah pulang. Benar, kau akan pulang saat jingga. Aku menengok ke arah senja. Para dewi telah menyamarkan kepedihan langit dibalik keindahan senja. Hey, bangun! Ini senja kesukaanmu! Bangunlah! Aku memeluk tubuhmu yang membiru. Tak bernafas. Tak bernyawa. Wajahmu basah oleh air mataku. Senja tak lagi berwarna jingga. Ia memucat. Berjalan beriringan dengan ketidak adilan. Senja menjadi kelam.

Rabu, 11 Januari 2012

Tak Bernama


Diam. Tak sepatah kata pun yang terucap dari mulut mereka. Laki-laki dan perempuan itu terlihat kikuk dan tidak nyaman. Berkali-kali mereka mencoba membetulkan posisi duduknya. Sang laki-laki menggaruk-garuk hidungnya dengan canggung. Sang perempuan memainkan jemari-jemari lentiknya.
“Kau tahu…” laki-laki itu membuka suara. “Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.”
“Aku juga.” Kata sang perempuan.
Diam. Mereka terdiam lagi. Bunyi gemericik hujan diluar sana mengiringi kebekuan mereka. Laki-laki itu menelan ludah. Seakan ada seonggok kalimat yang ingin ia katakan, tapi tercekat begitu saja tak tahu bagaimana menyampaikannya. Tak berbeda jauh dengan perempuan itu. Ia memainkan ujung rok yang dipakainya. Merasa bingung harus bagaimana untuk bersikap.
“Perasaan ini membuatku bahagia.” Laki-laki itu menatap mata sang perempuan.
“Aku juga. Aku juga merasa bahagia.” Perempuan itu membalas tatapan sang laki-laki. Ia tersenyum lembut.
“Boleh aku bertanya sesuatu? Kau boleh menganggapku idiot atau bodoh atau apapun itu karena telah menanyakan hal ini.” Laki-laki itu terlihat gugup. Ia menggaruk rambutnya yang acak-acakan.
“Tentu. Dan, tidak. Aku tidak akan menganggapmu idiot atau bodoh atau apapun itu.” Perempuan itu masih menatap laki-laki di depannya itu.
Sang laki-laki berdeham. Ia menarik nafas panjang.
“Apakah kau…. Apakah setiap kali kau bersamaku, kau merasa jantungmu berdegup kencang seperti apa yang aku rasakan sekarang?”
“Ya.” Jawab sang perempuan.
“Lalu, apakah setiap kali melihatku, perutmu serasa digelitik seperti apa yang aku rasakan sekarang?”
“Ya.”
“Lalu, apakah setiap kali kau mendengar suaraku, ada bagian dari dirimu yang ingin menyimpan suara itu, untuk selalu kau bawa bersamamu…” laki-laki itu berhenti sejenak. “seperti apa yang aku rasakan sekarang?”
“Ya.”
Mereka terdiam lagi.
“Satu pertanyaan terakhir.” Kata laki-laki itu.
“Baik.”
“Apa kau tahu perasaan apa yang sedang kita rasakan sekarang?”
Perempuan itu memandang sang laki-laki penuh arti.
“Tidak. Aku tidak tahu perasaan apa ini. Aku tak pernah merasakan sebelumnya.”
“Aku juga.”
Laki-laki dan perempuan itu menutup percakapan. Rasa heran dan kosong menyergap benak mereka. Mereka dapat merasakannya. Merasakan perasaan bahagia itu. Tapi, mereka tak pernah tahu. Tak pernah ada yang tahu disebut apa perasaan itu.

Sabtu, 31 Desember 2011

Sebut Saja Takdir

“Aku kangen kamu.”

“Basi.”

“Aku sayang kamu.”

“Nggak penting.”

“Aku cint….”

“Stop.”

“Kenapa? Kenapa kamu nggak pernah percaya sama aku. Demi Tuhan aku nggak bohong. Aku benar-benar cint….”

“Stop. Aku bilang stop. Dan jangan pernah bawa-bawa nama Tuhan. Aku nggak suka.”

“Oke, aku berhenti. Tapi, kamu beritahu aku, kenapa kamu nggak memberiku kesempatan? Kenapa?”

“Kamu sudah tahu jawabannya.”

“Nggak. Aku nggak tahu apa-apa.”

“Jangan pura-pura nggak tahu.”

“Aku nggak pura-pura. Aku memang nggak tah…”

“Aku sudah menikah. Mengerti? Apa kamu nggak lihat cincin di jariku ini?”

“Kamu berubah. Dulu kamu bilang mencintaiku. Dulu kamu bilang kita akan selalu bersama. Bohong, kamu pembohong.”

“Takdir yang tidak sejalan dengan kita.”

Bullshit! Tadi, kamu bilang jangan bawa-bawa nama Tuhan, sekarang kamu berbicara tentang takdir? Tahu apa kamu tentang takdirku? Tahu apa kamu tentang takdirmu? Tahu apa kamu tentang takdir kita hahhhh???!!!”

“Dari awal sudah bisa tertebak bagaimana akhir hubungan kita.”

“Oh. Gitu? Berarti dari awal kamu memang sudah nggak serius denganku? Begitu?”

“Bukan begitu, tapi…”

“Tapi apa??!! Asal kamu tahu, aku susah payah mencarimu. Kamu menghilang begitu saja. Setalah apa yang telah kita lalui.”

“Aku harus membahagiakan orang tuaku. Dengan menikahinya! Tahu kamu??!!”

“Apa harus dengan cara itu? Ada banyak cara untuk membahagiakan orang tua. Tapi, kamu memilih cara yang menyakitkanku.”

“Maaf. Maafkan aku, Roni.”

“…..”

“Maaf.”

“Baik. Aku akan memaafkanku. Lupakan semuanya. Lupakan kalau kita pernah mengenal satu sama lain. Ini mungkin yang terbaik untukmu. Salam untuk istrimu.”

Kedua lelaki itu berpelukan untuk terakhir kalinya. Saling melepaskan kasih masa lalu. Berhenti disitu. Mereka memendam dalam-dalam kisah mereka. Berjalan menjauh. Dan berlalu.

Senin, 26 Desember 2011

Sayang, asal kau tahu....

Sayang, asal kau tahu. Setiap jam, menit, detik, aku selalu menanyakan keberadaanmu. Bukan karena aku tak percaya padamu. Tetapi karena aku mengkhawatirkanmu.

Sayang, asal kau tahu. Tak pernah aku bercerita tentang masa lalu ku kepadamu. Bukan karena aku tak mau jujur dan berbagi kepadamu. Tetapi karena aku takut akan membuatmu terluka.

Sayang, asal kau tahu. Setiap saat aku berkata aku mencintaimu. Bukan karena aku seorang penjilat dan penggombal. Tetapi karena aku ingin kau tahu aku memang selalu mencintaimu.

Sayang, asal kau tahu. Aku melarangmu pergi dengan teman-temanmu hingga larut malam. Bukan karena aku membatasimu. Tetapi karena aku takut akan terjadi apa-apa kepadamu.

Sayang, asal kau tahu. Aku jarang menceritakan masalah-masalahku padamu. Bukan karena aku tak mau terbuka padamu. Tetapi karena aku takut membuatmu khawatir.

Sayang, asal kau tahu. Aku posesif. Karena aku mencintaimu.

Ayah

Hai perkenalkan, namaku Fasya Putri. Tapi, kalian boleh memanggilku Acha. Aku hanya tinggal berdua dengan ayah. Ibuku , entahlah. Aku lupa. Kata ayah, ibu pergi karena ada urusan. Tapi, sampai sekarang ibu tak pernah kembali. Biarlah, yang penting aku punya ayah yang selalu menyayangiku. Dari kecil hingga sekarang aku berumur 8 tahun, seingatku, ayah lah yang terus menjagaku. Aku sayaaaang sekali sama ayah. Dan aku tahu ayah juga sangat menyayangiku.

Kami tinggal di sebuah kontrakan kecil di perkampungan. Kontrakannya kecil, tapi tidak terlalu kumuh seperti rumah kontrakan ku yang dulu. Kami sering berpindah tempat tinggal. Aku tak pernah tahu alasannya. Dan aku tak pernah bertanya. Karena setiap kali akan pindah, raut wajah ayah seram sekali. Walaupun ayah tak pernah memarahiku, aku tetap saja takut melihatnya seperti itu.

Ayah mempunyai seorang teman dekat. Namanya Pak Bowo. Kami sering tinggal di rumah Pak Bowo, dan aku juga berteman dekat dengan anak Pak Bowo, namanya Tiara. Ayah dan Pak Bowo seringkali berbicara sangat serius. Aku dan tiara yang melihat mereka jadi bertanya-tanya apa yang mereka bicarakan. Tapi, kami tak benar-benar bertanya. Karena, ibunya Tiara melarang kami untuk bertanya. Itu urusan orang dewasa, anak kecil belum boleh tahu, katanya.

Oh iya, aku tidak bersekolah. Tapi, aku tetap belajar lho. Ayah seringkali membawa buku-buku untuk aku baca dan pelajari. Kalau Tiara sedang les, aku juga terkadang ikut. Dengan membawa buku-buku yang ayah beri padaku, aku bertanya soal yang tidak aku mengerti kepada guru les Tiara. Tiara senang sekali karena ia jadi tak sendirian kalau les. Aku tentu saja juga senang sekali.

Aku tak pernah tahu ayah kerja apa. Suatu waktu, aku pernah bertanya pada ayah, sebenarnya dia kerja apa. Tapi, ia hanya tersenyum, dan bilang bahwa ia bekerja membahagiakanku. Aku senang, tapi juga tidak lega. Ayah selalu saja bercanda. Ah betapa aku sangat menyayangi ayahku.

****

“Acha sayang, kok nggak dimakan makanannya?” Tanya Dewo, ayah Acha.

“Kan Acha nunggu ayah. Acha nggak mau makan sendirian.” Ujar Acha. Gadis kecil itu memasang muka sebal kepada ayahnya.

“Lho, kan ayah sudah bilang, ayah pulang terlambat, Acha makan duluan aja,” kata Dewo. Ia lalu menggendong anak semata wayang nya itu.

Acha kecil menahan kantuk dan laparnya demi menunggu sang ayah. Tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan ayahnya di luar sana.

****

Hari ini sikap ayah aneh sekali. Ia menutup semua jendela dan pintu. Setiap jam selalu melongok ke jendela melihat keluar. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Yang aku tahu, kemarin ayah pulang telat sekali. Ayah tak biasanya pulang se telat iu. Raut muka nya terlihat lelah dan tegang. Aku menghampiri ayah yang sedang berdiri di samping jendela. Ku peluk ayah dengan erat. Aku takut ayah kenapa-kenapa. Ayah balas memelukku dan mengelus-elus rambutku.

Jam 10.00 WIB, ayah menyuruhku mengemas barang-barang. Ah sudah saatnya kita pindah lagi. Tak banyak yang dibawa memang, hanya beberapa bajuku, buku-buku, dan satu boneka beruang hadiah dari ayah. Ayah sendiri telah selesai berkemas. Lalu, kami keluar melalui pintu belakang. Ayah menggendongku sepanjang jalan. Sedikit berlari dan tergesa, ayah meninggalkan rumah kontrakan kita.

Kami naik bus kota menuju rumah Pak Bowo. Di depan rumah, ayah dihadang satpam rumah Pak Bowo. Kenapa? Padahal selama ini, kalau kami kemari satpam ini selalu ramah. Tapi, tidak kali ini. Maaf pak, tapi ini perintah Pak Bowo, bapak dilarang masuk, ujarnya. Aku semakin bingung. Kenapa Pak Bowo melarang ayah masuk? Apa mereka bertengkar? Apa mereka sudah tidak bersahabat lagi?

Ayah terlihat marah sekali. Ia berteriak dan memaki kepada satpam itu. Berulang kali ayah berteriak memanggil Pak Bowo. Tapi, ia lalu diusir oleh si satpam. Aku menutup mata dan kedua telingaku. Seperti yang selama ini ayah ajarkan. Ketika ayah mulai berubah menjadi seram, kau harus menutup kedua mata dan telingamu, katanya. Maka sejenak, aku tak akan melihat keseraman ayah.

Ayah menggendongku lagi. Ayah meninggalkan rumah Pak Bowo dengan berlari. Berlari kencang sekali. Kami kembali menaiki bus. Aku diam saja. Walaupun banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan, aku memilih diam. Bus kami berbenti di pinggir jalan. Kami turun, dan ayah menggendongku lagi di sepanjang trotoar. Kami menaiki becak untuk menyusuri kampung-kampung. Dan berhentilah kami di sebuah rumah berwarna biru muda. Banyak tanaman dan bunga di depan rumahnya. Indah sekali. Lalu terdapat tulisan kecil di depan pagar. Panti Asuhan Bunga Matahari.

****

“Acha, untuk sementara, acha disini dulu ya. Ayah sudah bilang sama Ibu April, yang punya rumah bermain ini. Ayah akan cari rumah kontrakan untuk kita. Acha istirahat dulu saja disini ya.” Ujar Dewo kepada gadis kecil berbaju merah muda itu. Ia menunjuk wanita setengah baya yang berdiri di depan pintu. Wanita itu tersenyum pada Dewo dan Acha “Ayah janji tidak akan lama.”

“Tapi, kenapa yah? Selama ini kalau kita mencari rumah, Acha selalu ikut. Kenapa sekarang Acha tak boleh ikut?” Tanya Acha polos. Raut mukanya terlihat bingung sekali. “Ah! Acha tahu! Jangan-jangan ayah capek ya gendong Acha terus. Acha bisa jalan kok, yah.”

Dewo terhenyak mendengar ucapan lugu putrinya. Matanya terlihat berkaca-kaca, lekas ia mendongak agar air matanya tak tumpah.

“Kenapa ayah menangis?” Tanya Acha.

“Ah, ehm, tidak apa-apa. Mata ayah kemasukan debu,” Dewo mengusap-usap matanya. “Ayah tidak ingin Acha kecapekan. Jadi, Acha tunggu disini dulu saja ya. Ayah cuma sebentar.”

“Janji?” Acha menyodorkan jari kelingkingnya.

Dewo terdiam sejanak.

“Janji.” Dewo menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Acha. Ia lalu memeluknya dengan erat. Air mata yang ia tahan sedari tadi akhirnya tumpah juga. Perlahan, ia mengusap air matanya.

“Ayah, aku selalu sayang sama ayah.” Ujar Acha. Ia tersenyum dengan manisnya.

“Ayah juga selalu sayang sama Acha. Selalu.”

****

Sudah seminggu ayah tak menemuiku. Ayah bohong. Aku benci ayah. Ayah sudah tak sayang lagi padaku. Ayah meninggalkanku seorang diri disini. Padahal ayah tahu, aku hanya mau sama ayah. Tapi, ternyata ayah tak mau bersamaku lagi. Aku terus-terusan menangis. Aku bilang kepada Ibu April, aku akan menyusul ayah. Tapi, Ibu April melarang. Ia bilang tidak tahu dimana keberadaan ayah. Ayah jahat. Ayah jahat sekali.

Menangis terus membuatku lapar. Aku melupakan sejenak tentang ayah. Mungkin ayah belum menemukan rumah kontrakan, jadi aku masih harus menunggu disini, pikirku. Aku berjalan ke meja makan untuk mencari makanan. Aku ambil sebuah pisang goreng dan mulai memakannya. Terlihat Ibu April sedang menonton televisi di ruang tengah. Aku ikut menonton juga dari belakang.

****

“Pelaku pembunuhan Direktur Utama PT. Wijaya Putra akhirnya tertangkap. Ia adalah seorang pembunuh bayaran yang belum diketahui siapa otak dibalik semua ini. Polisi masih menggali informasi tentang siapa yang menyuruh pembunuh bayaran ini.” Kata seorang pembawa berita kriminal di televisi.

April membelalakkan mata.

“Pak Dewo?!” teriak April tak percaya.

Acha yang mendengar suara April, kaget. Ia lalu menghampiri televisi. Ia mengamati sosok pembunuh bayaran yang dimaksud si pembawa berita.

Acha terdiam. Pisang goreng di tangannya jatuh.

“Ayah…..”

Jumat, 23 Desember 2011

Berkenalan

Aku hanya bisa menatapnya dari jauh. Ia selalu duduk disitu. Di sebuah bangku kecil di dekat lampu taman. Dengan earphone yang selalu ia kenakan, ia disitu. Duduk dan membaca sebuah buku dengan tenangnya. Itu sudah buku kelima yang ia baca sejak seminggu lalu aku mengamatinya. Aku belum berkenalan dengannya. Terlalu takut. Terlalu malu. Jadilah aku hanya disini. Menikmati kopi dan batangan nikotin sambil menatapnya.

Sore ini perempuan berparas ayu itu kembali bergelut dengan bukunya. Dan masih tetap dengan earphone di telinganya. Aku mengumpulkan segenap nyaliku. Aku harus berkenalan dengannya. Bosan juga menjadi pengecut yang hanya menikmati keindahannya dari kejauhan. aku beranjak dari dudukku. Diam sejenak. Memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Bagaimana jika ia menolak berkenalan? Bagaimana jika ia takut padaku? Dan yang paling parah, bagaimana jika ia tak lagi mau duduk di bangku kecil itu? Ah, sial. Aku kembali duduk. Kembali menghisap rokokku. Kembali memandangi dirinya.

Sore berikutnya, tanpa berfikir, aku menghampiri perempuan cantikku itu. Duduk di dekatnya. Berpura-pura membaca buku yang sengaja aku bawa. Dengan hati-hati, aku tamati wajahnya dari dekat. Jantungku berdebar tak karuan. Sampai-sampai aku takut jika ia dapat mendengar detakan jantung ini. Ia menoleh. Menatapku beberapa saat, dan tersenyum. Sungguh, itu senyum terindah yang pernah aku lihat. Detik itu juga, aku tahu. Aku jatuh cinta padanya.

Hari-hari berikutnya, masih dengan kepura-puraan ku membaca buku, aku semakin sering dekat dengannya. Dan, belum. Aku belum mengetahui namanya. Aku ingin berbicara dengannya, tapi ia selalu memakai earphone. Bagaimana caraku mendekatinya tanpa membuatnya merasa terganggu? Entah. Aku belum bisa memikirkannya.

Hari ini aku kembali duduk di dekatnya. Aku menemukan sebuah cara untuk mendekatinya. Aku ambil secarik kertas dan mulai menulis.

‘Hai.’ Sapaku dalam tulisan di kertas itu. Aku berikan kertas itu padanya

Ia menoleh kepadaku. Terdiam sejenak, lalu tersenyum. Ya Tuhan, andai Kau tahu betapa aku berterima kasih pada-Mu karena telah menciptakan makhluk seindah ini.

‘Ya? :)’ ia juga menulis dalam kertas itu.

‘Lagu apa yang kamu dengarkan? Kayaknya kamu selalu memakai earphone itu.’ Tulisku lagi. Membuka pembicaraan.

Kali ini ia tidak menjawabnya. Ia menoleh dan menggeleng. Tak lupa dengan senyumnya yang indah itu.

‘Kamu tak mau beritahu? Aku yakin itu pasti lagu yang sangat spesial. Sampai-sampai kamu tak mau membaginya dengan orang lain. :)’ tulisku.

Ia tersenyum lagi. Dan mulai menulis.

‘Kamu yakin ingin tahu?’ balasnya

‘Ya.’ Jawabku mantab.

Ia mengambil sebelah earphone nya, dan dipasangkan di telingaku. Hening. Sepi. Tak ada suara apa-apa dari earphone itu. Aku mencoba menutup sebelah telingaku yang tak terpasang earphone. Mencoba berkonsentrasi akan suara yang diantar dari earphone nya. Tapi tetap tak ada suara apa-apa. Tetap hening. Tetap sepi.

Aku menoleh kepadanya. Ia menatapku.

“Jadi?” tanyaku bingung.

Ia tersenyum lagi. Lalu mulai menggerak-gerakkan tangannya. Aku seperti pernah melihat gerakan-gerakan itu. Aku mengernyitkan dahi. Mencoba memahami maksudnya. Oh! Aku ingat! Ini sandi yang biasa orang tuli gunakan untuk berkomunikasi. Ah, perempuan ini....

Aku menatapnya. Perasaan kaget dan bingung menyergapku. Ia masih tetap tersenyum. Ia masih tetap dengan senyum indah yang aku sukai. Aku menatap matanya. Dan tersenyum.

‘Salam kenal ya :)’ tulisku dalam kertas tadi.

Aku bukan lagi seorang pengecut yang hanya bisa mengaguminya dari jauh. Aku seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta yang begitu dalam dengan perempuan berparas ayu yang selalu duduk di bangku kecil dekat lampu taman. Ya, aku tahu. Aku tahu benar perasaan ini. Aku jatuh cinta.