Orang bilang waktu bisa menyembuhkan segalanya.
Tapi, sepertinya hal itu tak berlaku untukku.
Dia yang selalu bisa membuatku merasakan jatuh cinta dan patah hati dalam waktu bersamaan.
Dia yang telah berusaha kulenyapkan dari benakku selama bertahun-tahun.
Bagaikan sebuah hadiah sekaligus petaka yang diberikan Tuhan untukku, dia datang.
Masih dengan senyumnya yang selalu membuatku tergila-gila.
Dan juga tatapannya yang tak pernah bisa kulupakan.
Dia datang.
Aku tak bisa memungkiri betapa bahagianya aku bisa menghabiskan waktu bersama dengannya.
Walaupun bukan hanya kami berdua. Karena hal itu tak akan mungkin terjadi.
Aku bahagia bisa ikut tertawa dengannya, mendengarkannya menyanyikan lagu cinta entah untuk siapa, atau bahkan sekedar berada dalam jangkauannya.
Aku begitu payah. Lagi-lagi tenggelam dalam perasaanku sendiri.
Tak ada yang bisa kulakukan kecuali memutar kembali saat-saat indah itu.
Hanya sebagai pengingat bahwa dia pernah menyadari keberadaanku.
Ah, sepertinya aku mulai gila.
Sabtu, 09 Juli 2016
Selasa, 21 Juni 2016
Rumit
Kita bersentuhan dalam rangsangan
yang tak lagi bisa dibendung. Ciuman demi ciuman kau daratkan di bibir hingga
leherku. Desahanku memenuhi kamar hotel bintang 5 ternama yang sering kita
sewa. Kau membuka bajuku dengan kasar dan menindihku di atas tempat tidur. Kau mulai
melucuti pakaianmu tanpa melepas bibir kita yang masih berpagutan. Dengan gairah
yang telah memuncak, kita pun mulai bersenggama.
“Jadi bagaimana?” tanyaku sambil
memandangmu yang beranjak dari kasur setelah memuaskan birahi satu sama lain.
“Apanya?” tanyamu sambil kembali
mengancingkan kancing kemejamu satu persatu.
“Tentang kita,” jawabku lirih.
“Kita sudah pernah membahas
tentang ini,” ujarmu. Ada percikan amarah yang terdengar melalui nada bicaramu.
Namun, aku mengabaikannya.
“Tapi, sampai kapan?” aku masih
gigih meminta jawaban pasti.
“Dengar, sayang. Aku bisa
memberikanmu apapun. Handphone, mobil, apartemen, tubuhku, semua bisa aku
berikan untukmu,” kau berusaha menenangkanku dengan mengecup lembut dahiku. Tapi,
itu tak berhasil.
“Kamu tahu bukan itu yang aku
inginkan,” jawabku ketus.
“Ya. Dan kamu tahu tak ada dari
kita yang ingin hidup kita sama-sama hancur,” jelasmu. “Maaf, tapi aku harus
lekas kembali ke rumah. Istriku sudah menunggu.”
Kau berjalan keluar
meninggalkanku yang masih terbaring tanpa sehelai benangpun. Aroma tubuhmu
masih bisa kurasakan, begitu juga dengan peluh dan cairanmu yang menempel di tubuhku.
Ah, aku tak pernah menyangka
hidupku akan serumit ini. Entah bagaimana dua insan yang saling mencintai
seperti kita tak pernah bisa bersama untuk selamanya.
Aku membenamkan wajahku dengan
kedua tangan. Aku mulai menangis. Karena aku sadar, takdir tak akan pernah
mempersatukan dua laki-laki seperti kita.
Rabu, 13 April 2016
Sebuah Perubahan
23 tahun yang lalu ia lahir ke bumi,
tanpa tahu akan seperti apa dunia menjadikannya kelak.
Ia tumbuh menjadi gadis kecil
yang selalu riang dan membuat orang disekitarnya ikut merasa bahagia. Ia tak
pernah bersedih, kecuali ketika ayahnya mengganti acara kartun di televisi dengan
pertandingan sepak bola.
Masa mudanya penuh warna. Berbagai
konser band rock n roll hingga ska tak pernah absen untuk didatanginya. Ia memiliki
teman-teman sebaya yang selalu memiliki acara untuk berkumpul bersama. Berbagi kisah,
berbagi cerita.
Ia mungkin bukan siswi terpintar,
namun ia pernah meraih nilai tertinggi di sekolahnya saat ujian nasional hingga
membuat kedua orangtuanya bangga. Selalu ia ingat raut bahagia hingga tangis
haru ayah ibunya saat tahu sang anak menjadi seorang juara.
Lalu, tiba-tiba takdir
mempertemukannya dengan seorang pria.
Berawal dari pertemanan, mereka
akhirnya memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Keromantisan selalu
mengiringi keberadaan mereka. Keduanya lupa bahwa sejatinya hidup tak hanya
milik mereka saja. Namun, mereka tak peduli.
Ia menjalani hidup layaknya
makhluk tuhan paling bahagia bersama sang kekasih. Sayangnya, hal itu hanya
bisa dirasakan pada awal-awal bulan. Kekasihnya secara perlahan berubah menjadi
monster menyeramkan yang begitu ditakutinya.
Sang kekasih tak pernah ragu
untuk melayangkan tangan ke tubuhnya ketika dirinya merasa kesal. Pukulan demi
pukulan diterimanya tanpa tahu apa yang membuatnya berhak untuk menerima
perlakuan itu. Ia tetap memilih untuk bertahan.
Ia menjadi kebas. Tak ada perasaan
sedih atau senang yang bisa dirasakan.
Hanya ketakutan yang selalu
menjalarinya setiap kali melihat sosok sang kekasih. Seperti itukah definisi
seorang kekasih? Tidak. Dan ia pun akhirnya sadar hingga memberanikan diri
untuk meninggalkannya meskipun dengan perasaan terancam.
Untungnya, teman-teman yang dulu
ditinggalkannya karena larangan sang kekasih ternyata memang selalu ada di sana
untuk menunggu. Menunggunya kembali menjadi diri sendiri dan keluar dari
berbagai kekejaman yang berkamuflase atas nama cinta.
Kini, ia tak lagi menjadi wanita
murung yang selalu hidup dalam ketakutan. Meskipun terkadang bayangan-bayangan
kelam itu susah untuk disingkirkan, ia percaya Tuhan telah mempersiapkan akhir
yang bahagia untuknya.
Senin, 10 Agustus 2015
Living a Life As an INFP
| Source: 16personalities |
First of all, i actually don’t know if this is because I’m an INFP or just my personality. And what I’m about to share here is my own point of view. So, here we go.
INFP is one of sixteen type of personalities which include
Introversion, Intuition, Feeling and Perception. INFP is describes as quiet,
sensitive people who enjoy meditating upon connections and meanings in the
universe around them. Lost in dreams,
fantasies and ideals, they may seem distant at first, but are in fact one of
the warmest and kindest of all types--once you get get to know them, of course.
(source: oddlydevelopedtypes)
For me, the most hard thing to do as an INFP is socialize.
Like, I don’t actually know if I’m enjoy being with people or just by myself.
Because sometimes I’m really tired of socializing. Like, as if my social bar in
The Sims is full, i prefer to be with myself more after that. But sometimes I
also feel so alone. Not lonely, which is different, just alone. Like, no one’s
by my side. Though i don’t feel lonely, i quite pity myself.
The real thing about INFP is, they tend to push people away.
Because they think they can’t be attached to somebody for like 24/7 like what
bff do with chat, hang out and other stuff like that. So people around me
usually labeled me as arrogant. In fact, I’m just tired. Not that i don’t like
them, but I just prefer to have a me time as long as possible.
We also super awkward with strangers. But when we found
something that “click”, we’d have a fun conversation. That usually because of
same interest, like type of music, books, etc. But then again, we’d like to not
cross any personal conversation other than that. Oh and what I like the most as
an INFP is, we keep secret very sacredly.
Like, I’d keep your secret even on my grave, so don’t worry.
So yeah, I guess that’s it. I hope people could understand
my condition of being like this. I didn’t choose to be this way. I’ve tried so
hard to be likeable in society. I make people laugh with my jokes, my body, all
of me. But then after, I feel insure and tired. I do love being with them, but
not as often as i’m being with my own self.
Thank you so so much for understanding, and I’m really sorry
if i ever hurt you by any way.
PS: For more information of INFP click here.
PS: For more information of INFP click here.
Bye x
Sabtu, 14 Maret 2015
The Linger Guy
Look at me
getting weaker and weaker everytime we meet.
Let’s not
say hi to each other.
Let’s
pretend we don’t know each other.
Because, it’s
safer that way.
Eventhough I’m
dying to have a conversation with you.
It could be
about your favorite soccer team.
It could be
about your room that’s under construction.
It could be
about your little sister who’s going to kindergarten soon.
It could be
about anything.
I don’t mind
talking to you every single hour.
You’re that
worth for me.
But, that
would kill me faster.
For going
head over heels for you over and over again.
And dude, I
don’t want to die early.
Rabu, 10 Desember 2014
Desember
Saya menyukai Desember. Tak pernah
tahu pasti alasannya, namun Desember membawa kedamaian tersendiri bagi saya. Desember
ibarat rumah yang selama ini saya tuju. Yang membuat saya menghela nafas lega
dan berkata, “Ah, akhirnya tiba juga di bulan ini.”
Mungkin karena Desember merupakan
bulan di penghujung tahun. Bulan dimana saya menengok kembali ke bulan-bulan
sebelumnya dan mengingat apa yang telah saya lalui sepanjang tahun. Bulan pengasih
yang seakan dapat memaafkan segala bentuk keabnormalan saya dan memeluk saya
dengan lembut.
“Yang lalu biarlah. Because you made it until today. Don’t
worry, you did great.” Mungkin jika Desember bisa berbicara, ia akan
berbicara seperti itu.
Desember bagi setiap orang memang
berbeda-beda. Namun, Desember saya selalu memaafkan.
Terlalu terlambat memang untuk
mengatakan ini, namun terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali kan?
Selamat datang, Desember. Terima
kasih telah bersedia menemani.
Rabu, 29 Oktober 2014
Musikalisasi Puisi: Ijinkan Aku
Sebuah musikalisasi puisi olehku dan para peramu imaji ulung, Rizal Firdausy a.k.a Teweh dan Amartha Anindita a.k.a May. Para mahkluk Tuhan yang kusayangi secara utuh, mereka, telah menciptakan sebuah alunan keresahan yang menjalar indah dan membuat candu.
Ijinkan Aku.
aku hanya ingin meminjam cahayamu sebentar.
mungkin sinarnya meredup, tapi percayalah ia tetap hidup.
meski pada tubuh-tubuh yang terlantar, ia tetap berpendar.
ijinkan aku meminjam cahayamu sebentar.
sudah lama aku tak merasakan hangat ini.
kehangatan yang mendamaikan setiap jengkal tubuh.
yang memelukku lembut dalam kekal, yang meredam suar keluh.
"jalang!"
mungkin kau berfikir seperti itu.
"bedebah!"
riak makimu kepadaku.
silahkan saja mendaifkanku semaumu.
aku tahu, kau pemilik utuh cahaya itu.
kaulah tuannya.
sedang aku, seorang benalu yang menginginkan secercanya.
yang bahkan harus mengemis untuk sebuah kedamaian fana.
tenang, sayang.
aku tak bermaksud mengambil alih cahayamu.
aku tahu ia milikmu.
namun ijinkan aku, ijinkan aku meminjam cahayamu sebentar.
untukku.
untukku seorang.
Selasa, 28 Oktober 2014
Tak Bisa Aku Benar-Benar Mencintaimu
Sebab, ada lagu-lagu kami yang mengalir merdu di telinga.
Sebab, ada foto-foto yang mengkekalkan ribuan memori.
Sebab, ada telepon-telepon yang tanpa sengaja selalu
ditunggu.
Sebab, ada pesan-pesan dalam ponsel yang masih enggan
dihapus.
Adalah rindu yang tak bisa ditepis.
Adalah kenangan yang seringkali datang tanpa diundang.
Adalah hari-hari yang dulu kami lewati bersama.
Adalah tawa renyahnya yang masih sering terdengar dalam
angan.
Jadi, ia yang entah sekarang ada dimana, masih bertahta
disini.
Jadi, ia yang entah sekarang sedang apa, masih bertahan disini.
Jadi, ia yang entah sekarang milik siapa, masih bersemai
disini.
Jadi, maafkan aku, kekasihku.
Tak bisa aku benar-benar mencintaimu.
Selasa, 30 September 2014
Teruntuk Wanita di Depan Altar
Aku
mengambil sebuah jas hitam yang sudah kupersiapkan sebelumnya untuk acara ini.
Kulihat pantulan diriku sekali lagi di kaca untuk memastikan tidak ada yang
kurang dengan penampilanku. Aku menghela nafas. Masih tidak beranjak dari depan
kaca.
Sebentar lagi
aku akan melihatnya berdiri di depan altar. Wanita yang selalu aku cintai.
Tidak dengan t-shirt band favorit dan
sneakers kebanggaannya yang selalu ia
kenakan. Ia akan mengenakan gaun warna putih dan high heels dengan warna senada yang membuatnya terlihat sangat
anggun. Rambutnya yang selalu diikat asal akan ditata rapi dan dihiasi dengan
mahkota kecil dan wedding veil.
Wajahnya yang memang sudah cantik tanpa make-up
akan terlihat lebih cantik dengan make-up.
Kau terlihat sangat cantik, akan kubisikkan
itu padanya. Lalu, ia akan tersenyum dan menunjukkan dua lesung pipi yang menjadi
ciri khas nya. Seperti yang selalu ia lakukan di tahun-tahun yang lalu.
Tiga puluh
menit berlalu, dan akhirnya aku memutuskan untuk berangkat.
Ia
disana. Wanita yang selalu aku cintai. Tepat seperti apa yang aku bayangkan.
Cantik. Anggun. Selalu membuatku jatuh cinta.
Ya.
Ia disana.
Aku duduk dalam diam. Mendoakan kebahagiaannya
kepada Tuhan. Mendoakan agar ia selalu bahagia dalam setiap nafas yang
dihembusnya. Dan berdoa, agar aku masih bisa melihat senyumnya yang dulu selalu
ia tujukan hanya untukku.
Ya Allah, bahagiakanlah ia. Juga... keluarga
kecil mereka. Ucapku dalam hati.
Aku membaca
ulang sebuah notes kecil yang telah
aku persiapkan dengan sebuket bunga tulip kesukaannya.
“Dear Catherine,
Selamat atas pernikahan kalian. Aku turut
berbahagia. Dan, kau terlihat sangat cantik hari ini. Ah, tidak. Kau memang
selalu cantik dimataku. Sekali lagi, selamat atas pernikahan kalian.
Alif.”
Aku dan dia
memang tidak akan pernah bisa sama. Namun, kita tak pernah bisa memilih dengan
siapa kita akan jatuh cinta. Dan aku, hingga saat ini, masih jatuh cinta
padanya.
Jumat, 26 September 2014
Bulimia
Aku mengkonsumsi. Lalu, memuntahkan. Begitulah definisi
bulimia. Namun, kasusku disini, bukan makanan yang aku konsumsi. Tapi, memori.
Ribuan memori tentang aku dan kau, yang dulu pernah disebut dengan “kita”.
Memori yang menyenangkan, yang membawaku kembali dalam
alunan rindu yang merdu sekaligus memekakkan telinga. Sekali waktu aku membuka
kembali memori kita. Perlahan, lalu terbiasa. Begitu candunya aku akan memori
itu.
Namun, aku segera memuntahkannya. Itu sangat tidak baik bagi
tubuhku. Terlebih, hatiku.
Pernah suatu waktu, aku begitu kelaparan dan menghabiskan
banyak porsi tentang memori kita. Tak pernah ada kata kenyang. Aku menjadi
lebih rakus dari hari ke hari. Namun, disaat yang sama, aku segera
memuntahkannya kembali. Aku tak bisa menambah kalori-kalori rindu ini untuk
tubuhku. Sudah terlalu banyak lemak yang menguasai.
Aku sadar sekali ini tak baik untukku. Aku benar-benar
sadar. Namun, candu ini begitu menggoda. Tak pernah cukup aku akan kau. Akan
kita. Walau sekarang kau entah sedang beradu kasih dengan siapa. Walau aku tak
pernah tahu pasti bibir siapa yang akan kau kecup. Tubuh baru yang kau peluk.
Sebuah jiwa baru untuk kau ambil.
“Percayalah, aku akan selalu berada disini. Di dekatmu.
Walau nyatanya memang kita terpaut jarak ribuan kilometer yang begitu menyiksa.
Namun, aku selalu disini. Bersamamu. Kau harus percaya itu.”
Lebih dari ribuan kali kalimat itu aku telan mentah-mentah.
Mengendap di seluruh tubuhku. Membuat jantungku berdegup tak karuan ketika aku
memutar ulang memori itu. Lalu, tak lama, air mata seakan tak sanggup lagi
berada di pelupuk. Ia jatuh. Tepat ketika aku bersuara...
“Iya. Aku percaya. Aku selalu percaya.”
Penyakit ini sudah begitu akut. Aku ingin sembuh. Aku tak
ingin candu ini menggerogoti tiap aliran darahku. Tidak mudah memang, tapi aku
harus mencoba.
Tak akan lagi aku mengkonsumsi memori ini. Sehingga tak akan
ada lagi yang harus dimuntahkan selanjutnya. Seperti kata-kataku saat iku, “Aku
percaya. Aku selalu percaya.” Ya. Aku percaya aku bisa.
Sabtu, 05 Juli 2014
Teruntuk Sebuah Nyawa Di Dalam Rahimku
Selamat pagi,
kamu di dalam perutku. Aku masih tidak menyangka kamu hadir dalam kehidupanku.
Dalam hari-hariku. Kamu yang akan menemaniku selama 9 bulan nanti. Kamu yang
akan selalu ada denganku. Aku tidak sabar untuk melihatmu dengan mata kepalaku
sendiri. Bukan dengan bantuan mesin USG sang bidan.
Kamu sang
juara. Bayangkan betapa banyak teman yang kamu kalahkan untuk menetap di
rahimku. Kamu juaranya! Kamu yang terhebat! Kamu hebat, Nak!
Nak, anakku
tersayang. Jika kelak kamu telah lahir ke dunia, jangan pernah tanya siapa
bapakmu ya. Karena sejujurnya, ibu pun tidak tahu. Tidak ada yang tahu
siapa bapakmu. Tapi, ibu bisa menjadi ibu sekaligus bapak untukmu. Ibu janji.
Ibu akan melakukan apa saja untuk bisa membahagiakanmu.
Ibumu memang
seorang jalang. Bapakmu tak lebih hina dari binatang. Tapi, anakku sayang. Ibu
pasti akan selalu membuatmu senang.
Masih Sanggupkah Kau Tersenyum Nanti?
Masih sanggupkah kau tersenyum nanti?
Setelah ujian yang datang bertubi-tubi kepadamu, masih sanggupkah
kau tersenyum?
Setelah orang-orang menghinamu disana-sini, masih sanggupkah
kau tersenyum?
Setelah semuanya menyudutkanmu, masih sanggupkah kau
tersenyum?
Setelah sakit yang terasa mematikan, masih sanggupkah kau
tersenyum?
Setelah hidup yang kau punya satu-satunya terkoyak, masih sanggupkah
kau tersenyum?
Setelah kebahagiaan yang perlahan meninggalkanmu, masih sanggupkah
kau tersenyum?
Setelah kehancuran begitu ingin menghampirimu, masih sanggupkah
kau tersenyum?
Masih sanggupkah kau tersenyum nanti?
Berhenti
Aku masih ingat sekali nasehatnya
waktu itu. Diandra, sahabatku.
“Kau tidak berhak merasakan
sakit,” katanya singkat dan menyayat.
Itu komentar yang dilontarkannya
ketika aku berkeluh tentang hubunganku dan Damar.
“Lalu aku berhak apa? Mencintai
tak berhak. Merasakan sakitpun aku juga tak berhak. Apa sudah tidak tersisa
lagi hak yang dapat kurasakan?!” balasku padanya.
Aku dan Damar memiliki hubungan
yang lebih dari sekedar teman. Namun, tak bisa juga dibilang kekasih. Damar
yang aku kenal selama ini adalah seorang yang manis dalam bertutur dan
bersikap. Ia dapat membawaku ke nirwana dalam setiap untaian janji yang
diucapkannya. Damar yang begitu manis, yang begitu kusayangi, ia jugalah yang
dapat menguburku hidup-hidup dalam setiap rahasianya yang perlahan terkuak.
“Betapapun sakit yang kau rasakan
saat ini, tidak sebanding dengan sakit yang dirasakan wanitanya setelah tahu
apa yang terjadi antara kau dan Damar,” ucap Diandra.
“Ia sakit, aku tahu. Tapi, Di,
aku juga sakit...” aku tak bisa lagi membendung air mataku.
“Dia sedang hamil, Demi Tuhan!
Jika memang kau tidak bisa menggunakan akal sehatmu, gunakan hati nuranimu! Kau
juga wanita! Tak kasihan kau melihat calon jabang bayinya? Tak kasihan kau
melihat ibu dari bayinya?” Diandra tak sanggup lagi mengontrol emosinya.
Kilatan amarah terpancar jelas di kedua matanya. Begitu juga dengan pancaran
menyudutkan dan menyalahkan yang juga tergambar jelas di matanya. Namun, tak
kulihat pandangan menghina darinya. Bahkan ketika aku tahu, aku memang hina.
Aku tidak pernah kenal dengan
istri Damar. Namun, pernah sekali aku bertemu dengannya di kantor. Aku tak tahu
ia istri Damar. Aku tak pernah tahu Damar telah beristri. Sekarang aku bisa
mengerti tatapan apa yang dilayangkannya kepadaku saat itu. Jalang. Begitu yang
tersirat di matanya.
“Aku berhenti, Di. Demi Tuhan aku
juga berusaha berhenti. Aku sedang mencoba mengosongkan kuali-kuali yang penuh
akan kasih sayangku padanya. Kau harus tahu aku berusaha mati-matian,” aku
masih saja membela diriku.
“Aku tahu, aku benar tahu. Tapi
yang tak aku suka darimu, seakan kaulah pihak yang paling sakit. Padahal kau
tahu... Ada pihak yang lebih tersakiti,” ucapnya.
Aku diam sejenak. Menyeka air
mataku yang telah surut.
“Aku tahu...” sahutku lemah.
“Ya... Aku harap kau benar tahu.”
Sabtu, 02 November 2013
Kau di Depan Sana, Selamat Untuk Kekasih Baru mu.
Hai. Ku dengar kau sudah menjadi miliknya ya? Miliknya
seutuhnya? Jahat sekali. Aku bahkan belum sempat mengutarakannya padamu. Mengutarakan
bagaimana aku terbius dengan aroma tubuhmu. Dengan pancaran semu kebahagiaanku
saat bersamamu. Bagaimana bisa kau meninggalkanku begitu saja. Ah, jelas kau
bisa. Memang aku siapa? Kau bahkan mungkin tidak mengenaliku.
Aku yang sudah terbiasa mengagumimu dari kejauhan ini
merasa kehilangan. Bagaimana tidak, kau yang biasanya menjadi tumpuan
mimpi-mimpiku untuk memilikimu, sekarang telah dimiliki orang lain. Beruntung
sekali orang itu. Iya, orang itu. Kekasih barumu. Dia bisa mendapatkanmu tanpa
harus bersusah payah menyembunyikan diri saat memandangimu. Tidak sepertiku,
yang harus sembunyi-sembunyi agar kau tak sadar bahwa aku menatapmu sedari
tadi.
Jujur saja, aku tidak ingin mendoakan jelek untuk
hubunganmu. Karena bagaimanapun, kau bahagia bersamanya. Dan itu cukup untukku.
Aku hanya berharap, kau masih sudi membagi secuil tubuhmu untukku. Untuk
kupandangi sendiri. Untuk kukagumi, betapa aku benar-benar menyukaimu. Ini
sudah gila, ini bukan suka lagi. Ini lebih dari itu. Entah apa namanya…
Mimpi
Malam ini aku bermimpi tentangmu lagi. Tentang paras
mu yang menggelayut manja di benakku. Kita berbicara lama sekali. Mataku
terkunci pada matamu. Aku melihat pantulan diriku di mata beningmu. Ah,
walaupun ini hanya sekedar mimpi, yang aku tahu pasti tidak akan terjadi di
dunia nyata, aku tetap mengucap syukur pada Gusti. Karenanya, aku dapat
memandangimu, memperhatikanmu dari dekat, walau hanya dari mimpi.
Kita berbincang. Membicarakan apa saja. Jarak kita
hanya terpaut sepersekian centimeter. Ada jendela yang yang menghubungkan kita.
Kita berdiri disana. Berbincang. Dan saling menatap. Hingga entah bagaimana,
kau memberi sepucuk surat untukku. Aku lupa sebagian besar isi suratnya. Namun
yang aku ingat, dalam surat itu ada kalimat…
“Namaku .…. Dan aku sudah berpacaran 7 tahun dengan .….
Masihkah kau menerimaku?”
Entah. Aku tidak menjawab surat itu. Mimpi terputus
begitu saja. Ketika aku terbangun, hanya tiga kata yang terucap langsung dari
bibirku.
“…Ya. Aku mau.”
Mungkin aku memang sudah gila. Untuk apa aku menjawab
pertanyaan dari dunia fana? Dunia yang entah kapan aku bisa berada disana lagi...
Ah, sial.
Sabtu, 21 September 2013
Demi Masa
99 Asmaul Husna dalam pigora yang terpampang di ruang tamu memanggil-manggil. Kitab suci Al-Quran yang usang dan bedebu menyenandungkan ayat-ayatnya. Mukena putihku yang dulu bersih tanpa noda sudah tidak berwarna putih lagi. Kerudung-kerudungku yang selama ini menemaniku memandangiku dengan iba.
Dulu, rasanya tiada hari aku lewatkan tanpa kehadiran mereka.
Dulu, setiap sore, dengan memakai kerudung merah jambu kesukaanku, aku selalu duduk di ruang tamu dan menyenandungkan ayat-ayat suci Al-Quran.
Dulu, melafalkan asmaul husna sudah merupakan suatu kewajiban bagiku.
Dulu, tidak pernah kulewatkan waktu sholatku, kutinggalkan apapun yang aku kerjakan untuk menunaikan sholat terlebih dahulu.
Dulu, aku merasa dekat sekali dengan Gusti Allah, membuat segala terasa tentram.
Dulu, yang sunah terasa wajib untukku. Mulai sholat sunah, hingga puasa sunah senin kamis.
Kini, aku yang sudah terbiasa tanpa kehadiran mereka, sudah tak pernah lagi menyentuh mereka.
Kini, kerudung merah jambu kesukaanku sudah berlubang termakan rayap.
Kini, rasanya aku sudah tidak ingat lagi bagaimana cara membaca ayat-ayat suci Al-Quran.
Kini, asmaul husna yang dulu aku hafal di luar kepala, sudah hilang terkikis waktu.
Kini, jangankan sholat, ingat keberadaan-Nya saja aku seringkali lupa.
Kini, aku merasa jauh sekali dengan-Nya.
Gusti.. Mohon ampun..
Dulu, rasanya tiada hari aku lewatkan tanpa kehadiran mereka.
Dulu, setiap sore, dengan memakai kerudung merah jambu kesukaanku, aku selalu duduk di ruang tamu dan menyenandungkan ayat-ayat suci Al-Quran.
Dulu, melafalkan asmaul husna sudah merupakan suatu kewajiban bagiku.
Dulu, tidak pernah kulewatkan waktu sholatku, kutinggalkan apapun yang aku kerjakan untuk menunaikan sholat terlebih dahulu.
Dulu, aku merasa dekat sekali dengan Gusti Allah, membuat segala terasa tentram.
Dulu, yang sunah terasa wajib untukku. Mulai sholat sunah, hingga puasa sunah senin kamis.
Kini, aku yang sudah terbiasa tanpa kehadiran mereka, sudah tak pernah lagi menyentuh mereka.
Kini, kerudung merah jambu kesukaanku sudah berlubang termakan rayap.
Kini, rasanya aku sudah tidak ingat lagi bagaimana cara membaca ayat-ayat suci Al-Quran.
Kini, asmaul husna yang dulu aku hafal di luar kepala, sudah hilang terkikis waktu.
Kini, jangankan sholat, ingat keberadaan-Nya saja aku seringkali lupa.
Kini, aku merasa jauh sekali dengan-Nya.
Gusti.. Mohon ampun..
Teruntuk Kau di Depan Sana
Teruntuk kau di depan sana…
Memandangimu telah menjadi bagian dari hari-hariku.
Tatapan matamu yang begitu hangat. Lekuk bibirmu saat kau tersenyum. Deru nafasmu yang menenangkan.
Aku tak pernah bosan memandangmu.
Cukup hanya dengan memandangimu.
Aku tak sampai hati untuk menyentuhmu.
Aku takut tangan kasarku akan melukai kulit lembutmu.
Kau begitu mengagumkan.
Setiap centimeter dari dirimu begitu mengagumkan.
Kau adalah percikan kecil air surga yang nyata adanya.
Jangan kau beranjak dari depan sana.
Jangan pernah kau beranjak dari depan sana.
Biarkan aku menikmati setiap detil gerakan anggunmu.
Memahami binar matamu.
Mensyukuri nikmat Tuhan akan adanya dirimu.
Teruntuk kau di depan sana…
Suatu hari nanti. Suatu hari nanti akan kukatakan semuanya padamu.
Bahwa aku… Mencintaimu…
Aku lebih dari mencintaimu…
Aku menggilaimu…
*Terinspirasi oleh Radiohead – Creep. Dan juga, untuk kau di depan sana.*
Selasa, 09 Juli 2013
Gusti Allah Mboten Sare
Berjalan lurus tanpa arah, aku
seringkali tersesat. Diantara seluk beluk kebutuhan duniawi, aku menghalalkan
segala cara untuk bertahan hidup. Ini kebutuhan. Untukku dan keluargaku
bertahan dalam arus kebiadaban dunia. Persetan dengan opini orang. Toh bukan
mereka yang menghidupiku. Mengais dengan darah dan dosa, aku semakin tersesat.
Jam sudah menunjukkan pukul 18.00
WIB. Aku dan teman-teman satu wismaku bersolek diri seperti biasanya. Hari ini
aku memakai baju baru pemberian salah satu pelangganku. Baju yang menurutnya
cocok untukku, menonjolkan bentuk tubuhku yang molek.
“Kau tampak cantik,” Komentar
Handoko, pelanggan tetapku.
Bapak satu anak itu memuji tubuhku
dengan belaian. Dengan dekapan mesra dan ciuman panas. Aku hanya tersenyum.
Pujian-pujian seperti itu sudah seringkali aku dengar. Hanya sebagai intermezzo mereka sebelum aku
melayaninya.
Malam ini sudah 6 tamu telah aku
layani. Germoku tersenyum puas. Senyum yang terdapat pada bibir bergincu merah
darah itu membuatku bergidik. Selama ini, dialah Tuhan-ku. Dia yang dapat
mengatur kehidupanku. Kapan aku bisa bahagia, dan kapan tidak.
Bulan Ramadhan sebentar lagi tiba.
Germoku memberi kebebasan untuk kami tetap berada di wisma, atau pulang
kampung. Tahun-tahun lalu aku menghabiskan Ramadhan di wisma. Masih tetap
melayani. Namun, tahun ini aku berencana pulang kampung. Entah kenapa,
tiba-tiba rasa rindu kepada emak menjalariku.
“Bagaimana nduk, di kota? Kerasan toh?”
komentar emak saat kita duduk-duduk di teras rumah. Emak membelai rambutku dengan
sayang. Belaian yang sangat berbeda dengan yang selama ini aku rasakan dengan
para lelaki pencari kelamin.
“Ya
wes gitu itu, mak. Mau ndak mau ya kerasan,” jawabku.
Emak masih belum tahu apa
pekerjaanku di kota. Bagaimana aku menghabiskan malam di dekapan lelaki-lelaki
beristri. Yang emak tahu, aku bekerja kantoran di kota. Iya kantoran memang,
kantor kelamin.
Aku begitu menyayangi emak. Begitu
sayangnya, hingga aku bersedia melakukan segala cara untuk dapat membuatnya
bahagia. Sayangnya, cara yang aku pilih berbeda. Mencari jalan pintas untuk
mendapat lembaran rupiah dengan lebih gampang. Dan hasilnya sekarang, kehidupan
emak memang jauh lebih baik dari sebelumnya. Bapak meninggalkan kami dengan
hutang. Tanpa sawah, tanpa harta peninggalan apapun, emak bekerja keras
menggarap sawah milik tetangga. Kini, emak telah memiliki sawah sendiri. Ia
juga sudah bisa menyewa petani untuk menggarap sawahnya.
“Yang penting jangan lupa sama Gusti
Allah, nduk. Gimana-gimana juga
Pangeran yang ngatur segalanya. Gusti Allah mboten sare.” Nasehat emak.
Aku hanya diam. Ngatur opo, batinku. Aku kayak gini apa iya Gusti juga yang ngatur?
Kalau aku meninggalkan pekerjaan nistaku ini, apa iya Gusti bisa memberi yang
lebih baik? Sempat 1 tahun hidup lontang-lantung di kota, Gusti juga diam saja.
Hingga akhirnya aku sendiri yang mengaturnya. Mengatur hidupku.
Minggu kedua bulan Ramadhan, emak mendengar
kabar dari tetangga yang menceritakan pekerjaanku di kota. Ia marah bukan main.
Ia menangis dan memohon kepadaku untuk berhenti. Aku ikut marah. Ia tidak tahu
bagaimana susahnya aku mengais uang untuk kehidupannya yang lebih baik.
“Ya
Allah, nduk. Kok isok kowe dadi koyok ngene? Taubat, nduk, taubat.” Emak menangis tersedu-sedu.
“Emak ndak tahu gimana susahnya cari uang di kota. Ini semua buat emak
juga! Untuk kehidupan emak!” belaku.
“Emak ndak perlu hidup enak yen
kowe nyari duit dengan cara sing ndak nggenah ngene,” tangisnya.
“Wes
to mak, aku ngerti opo sing tak lakokne. Wes, nek emak ora gelem nerimo duitku maneh yo rapopo!”
Saat itu juga aku kembali ke kota.
Ke tempatku mengais rejeki selama ini. Emak benar-benar keterlaluan. Aku hidup
nista seperti ini juga demi kehidupanku dan kehidupannya. Tapi, ia malah
memperlakukanku seperti ini. Ia anggap aku menjijikkan.
Hari itu adalah hari terakhir aku
bertemu emak. Hari terakhir aku merasakan dekapan penuh sayang dari emak.
Setelah pertengkaran itu, aku tidak pernah kembali ke kampung. Sudah 5 tahun
lamanya. Aku tetap saja menjalani pekerjaan maksiatku, tanpa mengindahkan
nasehat emak. Walaupun begitu, aku masih tetap mengirim uang ke kampung.
Berharap emak akan ikhlas menerima uang haramku.
Namun,
itu hanya harapan. Ia tidak mau memakai uangku lagi. Uang yang aku kirim
dikumpulkan oleh emak dan tersimpan rapi di dalam lemarinya. Selama ini ia
bertahan hidup dari sawahnya. Hingga ia tidak mampu lagi membiayai petani yang
menggarap sawahnya, dan akhirnya menjualnya. Emak bertahan hidup hanya dengan
uang itu. Hingga akhir hayatnya.
Kini,
emak telah meninggalkanku untuk selama-lamanya. Beberapa bulan setelah kembali
ke kota saat itu, aku terserang HIV AIDS. Si germo yang dulu menyayangiku
mengusirku seakan aku tak pernah menghasilkan uang untuknya. Seakan dulu aku
tak pernah menjadi kembang kebanggaan di wismanya.
Aku
tak punya keluarga lagi. Aku tak punya tempat bernaung lagi. Kerabat-kerabatku
menjauhiku karena tahu pekerjaanku. Apalagi penyakitku. Nasehat emak yang dulu
terngiang di telingaku. Emak benar. Gusti
Allah mboten sare. Mengkhianati emakku, mengkhianati Tuhan-ku, aku menuai
apa yang telah aku tanam. Beribu ampun, Gusti… Nyuwun pangapunten…
Senin, 14 Januari 2013
Menunggu Takdir
Aku sudah tidak bisa membedakan lagi mana kenyataan dan mana fana. Mereka membaur menjadi satu, berusaha memporak-porandakan hidupku. Aku kacau. Aku terjerat dalam tipu daya mereka. Yang fana berpura-pura menjadi realita. Realita memperkenalkan dirinya sebagai fana. Aku berada di tengah-tengah. Terombang-ambing akan ketidak pastian. Aku ingin sekali menyerah. Aku sudah tidak tahan lagi.
Hanya takdir yang bisa menyelamatkanku. Aku harap ia juga tidak ikut mempermainkanku. Aku buta akan nurani. Realita yang membutakannya. Apa daya, aku juga butuh hidup. Namun, hidup tidak membutuhkanku. Terseok-seok aku melangsungkan hidup, ia meludahkanku mentah-mentah. Sedikitpun ia tak mau menengokku.
Takdir. Bagaimanapun juga, aku tetap akan menunggumu. Walau hidup berusaha untuk membinasakanku, aku percaya, kau, takdir, akan memihak kepadaku. Benar kan? Benar kan, takdir?
Hanya takdir yang bisa menyelamatkanku. Aku harap ia juga tidak ikut mempermainkanku. Aku buta akan nurani. Realita yang membutakannya. Apa daya, aku juga butuh hidup. Namun, hidup tidak membutuhkanku. Terseok-seok aku melangsungkan hidup, ia meludahkanku mentah-mentah. Sedikitpun ia tak mau menengokku.
Takdir. Bagaimanapun juga, aku tetap akan menunggumu. Walau hidup berusaha untuk membinasakanku, aku percaya, kau, takdir, akan memihak kepadaku. Benar kan? Benar kan, takdir?
Sabtu, 22 Desember 2012
Tuhan Maha Adil
Tuhanku yang Maha Adil, aku kelaparan. Dan mereka di luar sana makan dengan rakusnya hingga perut mereka sakit. Jangankan makan hingga sakit perut, sesuap nasi pun aku tidak punya.
Tuhanku yang Maha Adil, aku kedinginan. Dan mereka di luar sana dengan mudah membeli jaket necis tebal yang mahal. Jangankan jaket necis tebal yang mahal, yang aku punya hanya selembar selimut tipis yang aku pakai berdua dengan adikku.
Tuhanku yang Maha Adil, aku kesakitan. Dan mereka di luar sana terlihat segar bugar dengan vitamin yang dikonsumsinya setiap hari. Jangankan mengkonsumsi vitamin, untuk makan saja aku sudah kesusahan.
Kau memang adil Tuhanku. Kau memang adil.
Tuhanku yang Maha Adil, aku kedinginan. Dan mereka di luar sana dengan mudah membeli jaket necis tebal yang mahal. Jangankan jaket necis tebal yang mahal, yang aku punya hanya selembar selimut tipis yang aku pakai berdua dengan adikku.
Tuhanku yang Maha Adil, aku kesakitan. Dan mereka di luar sana terlihat segar bugar dengan vitamin yang dikonsumsinya setiap hari. Jangankan mengkonsumsi vitamin, untuk makan saja aku sudah kesusahan.
Kau memang adil Tuhanku. Kau memang adil.
Langganan:
Postingan (Atom)